LINGKUNGAN

Kata Dishutbun Luwu, Kondisi Hutan Bukan Penyebab Banjir

Belopa, Lagaligopos.com – Bencana banjir beberapa waktu lalu yang sempat merendam beberapa kecamatan di wilayah kabupaten Luwu teryata mendapat penilaian berbeda dari Kadis kehutanan dan perkebunan Kabupaten Luwu, Hj. Basir membantah jika salah satu faktor penyebab dari banjir itu dikarnakan oleh kondisi hutan.

Seperti yang disampaikan oleh Basir dalam wawancara dengan Lagaligopos terkait kondisi hutan di Kab. Luwu diruangannya, di kantor Dinas kehutanan dan perkebunan, Basir mengatakan, “Tak ada hubungannya banjir beberapa waktu lalu dengan kondisi hutan, contohnya di Kecamatan Suli, yang setiap tahun mendapat banjir, hal itu (banjir) berhubungan erat dengan perkebunan cengkeh di pegunungan seluas ±12.000 hektar. Adapun penyebabnya, Basir mengatakan, “Perkebunan cengkeh itu seharusnya dibuat dengan tehnik terasering (berteras-teras), agar bisa mengurangi aliran air masuk kedalam sungai yang akan mmeningkatkan debit air. Ini bukan karna masalah sudah tidak adanya daerah resapan air,” kata Basir menjelaskan.

Basir melanjutkan, “Perkebunan itu merupakan daerah privat, sudah ada pemiliknya, jadi kami tak bisa melakukan interfensi”. Adapun solusi terhadap perkebunan masyarakat yang menjadi penyebab banjir, Basir mengatakan, “ada beberapa hal yang akan kami lakukan :

1. Dengan memberi percontohan agar setiap perkebunan diatas gunung dibuat dengan tehnis Terasering dan itu bisa menjadi cara untuk mengurangi aliran air masuk kesungai,

2. Dengan memberi bibit kayu pada petani untuk menanamnya di pinggir atau batas kebun hal ini sebagai upaya untuk mencegah erosi.

3. Areal yang tidak cocok dengan areal perkebunan akan dibuat menjadi hutan rakyat

Adapun dengan lahan kosong yang pernah dibuat kebun oleh masyarakat yang masuk dalam kawasan hutan lindung, Basir mengatakan, “Terkait hal itu, kami akan lakukan reboisasi dan suksesi alami hutan, maksudnya suksesi itu adalah membiarkan lahan itu menjadi hutan dengan sendirinya karna jika terdapat lahan kosong yang ditinggalkan maka dalam waktu ±5 tahun akan kembali menjadi hutan,” terang Basir panjang lebar, Senin (7/10/2013). (AC)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top