POLITIK

Lagi, Mantan Calon Komisioner KPU Luwu Akui Ada Permainan Kotor Dalam Proses Seleksi

Belopa, Lagaligopos.com – Dugaan permainan uang dalam proses seleksi KPU sampai hari ini masih menjadi menjadi isu hangat. Saat komisioner KPU Luwu yang baru mempersiapkan berbagai hal untuk menghadapi PILCALEG  2014, dugaan suap proses seleksi tersebut keluar dari mulut beberapa mantan calon komisioner KPU Luwu yang lolos 10 besar dan kemudian tidak lolos pada 5 besar.

Ismail Ishak ketika dikonfirmasi lewat telpon oleh Lagaligopos menceritakan terjadinya “Permainan Kotor” tersebut.

“Saat itu saya sudah mngetahui jika nama saya berada pada urutan 10 besar, tiba-tiba saya di telpon dari orang yang inisialnya BH. Dia mengatakan tolong siapkan “pelor” kemudian saya bertanya “pelor” untuk apa, dan dia menjawab pelor untuk “menembak” karna anda tidak akan bisa lulus jika tidak menggunakan “pelor,” kenang Ismail Ishak, Jumat (10/01/2014).

Ismail Ishak kembali melanjutkan, “Saat itu saya langsung menjawab, saya tak punya seperti yang anda minta, jika memang harus menggunakan yang seperti itu maka saya tidak lulus ke 5 besar”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Abd. Latif Idris saat ditemui Lagaligopos di salahsatu warung makan sehabis shalat jumat. Abd. Latif Idris juga adalah salahsatu orang yang telah mendapat tawaran dari inisial B sejak dari tes tertulis hingga saat nama-nama 10 besar sudah dirilis.

“ Saya sudah ditawari sejak tes tertulis namun saya tidak mengubris  karna saya melihat saya punya kapasitas, dan saat itu saya lihat B yang membawa tes tertulis dan B sendiri yang memberitahu saya tentang pintu masuk untuk lolos menjadi anggota KPU,” ucap Latif.

 “Saya pernah di buntuti dan bertemu langsung dengan B, awalnya dia menawari saya 50 juta, dan saya tetap tidak gubris, sesudah itu dia sangat intens menghubungi saya kemudian terakhir saat sudah berada di 10 besar dia menawari saya Cuma 35 juta, “bagaimana 35 juta mo saja”.  Kata Latif menirukan suara oknum berinisial B tersebut.

Latif menambahkan tidak mau berprasangka negatif pada rekan-rekannya yang sudah duduk menjadi komisioner KPU.

“Saya tidak berprasangka buruk kepada rekan-rekan saya yang sekarang jadi komisioner jika mereka masuk 5 besar karna permainan ini, tapi dengan adanya fakta-fakta seperti ini dan apa yang saya rasakan sudah menunjukan bahwa seperti inilah proses seleksi KPU yang sebenarnya. Namun sekali lagi yang selalu menawari saya adalah si-B, itu dibelakang dia sampai hari ini saya tidak tahu siapa yang bermain,” tutur Latif lagi.

“Jika hal ini dipermasalahkan dan saya dipanggil saya siap, karna memang kenyataannya kita lihat proses seleksi ini hanya formalitas saja untuk habiskan anggaran, bayangkan saja 500 juta hanya untuk 5 orang dan prosesnya subjektif, bukan hanya saya yang sejak awal mencurigai permainan seperti ini tapi juga beberapa rekan-rekan yang lain,” tutup Latif. (Ac)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top