OPINI

Pesta Penyambutan SBY: Perayaan Hasrat Para Tuan

OPINI | Lagaligopos.com – Jelang kedatangan Presiden SBY ke Bumi Sawerigading, pesta penyambutan pun mulai digelar: jalan-jalan berlubang di tambal, pagar rumah di Cat, spanduk ucapan selamat dibentangkan, karpet merah di hamparkan, elit lokal mulai memesan jas jutaan rupiah, kekuatan militer di sebar kesegala penjuru, dan anggaran miliaran rupiah pun sudah dikucurkan. Pesta pemyambutan Tamu nan agung dengan standar  “Budaya Tinggi” sang tuan perlahan-lahan memenuhi udara, menyesaki ruang publik, dan menguasai alam bawah sadar masyarakat, lonceng perayaan Hasrat para tuan mulai ditiup. 

Hasrat (desire) sebuah mekanisme psikis di dalam diri manusia yang selalu menuntut pemenuhan setiap dorongan akan kepuasan (pleasure). Kepuasan adalah tujuan satu-satunya hasrat. Di dalam teori hasrat, terdapat pengertian bahwa ada “rasa kurang” (lack) yang secara iheren akan terus mendorong upaya pencarian, pemenuhan, dan pelampiasannya (Filex Guattari: 1995).

Hasrat senantiasa menyambungkan dirinya dengan semua wacana sosial, ekonomi, politik, dan budaya (YAP: 2011). Hasrat senantiasa mencari panggung dalam rangka pementasan kuasa yang mencerminkan kedahsyatan, kemewahan, keriuhan, kemegahan dan kesilauan 

Hasrat selalu mencari katup pelepasan dari segala macam pembatas, ia akan mendobrak batas-batas yang seharusnya tidak ia lewati. Karena dorongan hasrat, kesederhanaan akan hilang karena kemewahan, kepolosan akan lenyap karena kekakuan aturan, keintiman akan tergeser karena dominasi.

Seperti pesta raja-raja, perayaan hasrat pastilah selalu tampil mencolok dari pesta rakyat biasa. Terdapat matematika yang berbeda antara “pesta para tuan” dan “pesta rakyat”.

Pesta Rakyat adalah kebutuhan atas kegembiraan, dan ungkapan syukur untuk sebuah pencapaian tertentu dalam masyarakat, Ia merupakan suatu ekspresi spontan dan asli dari rakyat kebanyakan. Dan perayaannya merupakan sebuah “taman kecil” tempat menikmati kegembiraan yang hakikih (MacDonald: 1957).

Sedangkan Pesta para tuan adalah sebuah pesta pementasan kuasa yang mencerminkan kedahsatan, kemewahan, keriuhan, kemegahan dan kesilauan. Sebuah pesta hasrat yang mengendalikan mesin-mesin teknis militer (mobil anti peluru, tank, CCTV, Sniper, Jet Tempur), mesin-mesin citra (televisi, koran, issu, propaganda, penyadapan), mesin-mesin sosial (pendidikan, litsus), mesin-mesin politik (partai, aparat negara, dll), semua mesin-mesin itu digerakkan oleh energi hasrat untuk dijadikan wahana ekspresi pementasan kuasa.

Rakyat tidak bisa melihat, apa lagi mendekat merasakan bau Presidennya. Karena kemewahan, keriuhan, kemegahan dan kesilauan terlalu jauh dari selera rakyat kebanyakan.

Akibatnya, pikiran, kesadaran, dan energi komponen bangsa dihabiskan untuk mengurusi kerumitan pesta berbiaya tinggi, dengan segala ekses dan redundansinya, sambil melupakan tujuan utama, yaitu bagaimana menyertakan rakyat sebagai bagian yang nyata dalam setiap detail prosesnya.

Inilah kondisi dimana kekuatan Mantra Hasrat menguasai penampakan dunia. Kegembiraan yang asli dipudarkan oleh gegep gempita para pesolek, kesederhanaan disingkirkan oleh penganggaran miliran rupiah, dan interaksi yang jujur dan polos tergilas aturan standar keprotokoleran Presiden.

Kondisi serba berlebihan seperti ini akan menggeser “makna” sembari merayakan nihilisme. Tanpa sadar, pesta penyambutan Presiden SBY ini merupakan pendangkalan kebudayaan, sebuah pesta penyambutan yang bergerak ke arah “anti-kedalaman” (depthlessness), sebuah pesta penyambutan yang hanya menunjuk pada fungsi “Roti” dan “Sirkus”.

 

Oleh: Rival Pasau, Ketua Umum PP PEMILAR

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top