Politik Puasa

Lagaligopos.com – Kuali besar di atas api menyala itu berisi air mendidih. Dua orang tampak duduk di sisi kuali, salah seorang tengah menyantap daging yang masih basah dan melepuh.

Demikian adegan kanibalisme dihadirkan dalam Florentina Codex, IV, 9 (Biblioteca Laurentiana, Florence). Deskripsi laku kanibal ini berterima sebagai “kekejaman dan kebuasan” manusia di masa lampau.

Masalahnya, di bawah kolong matahari tidak ada yang sungguh-sungguh “lalu” dan “baru”. Pembabakan waktu beredar dalam wilayah persepsi, keriuhan pesta kembang api, dan suksesi politik. Manusia itu, kata penyair Ralph Waldo Emerson, adalah kutipan dari semua leluhurnya.

Semesta sejarah manusia adalah Titanik. Kombinasi sekaligus kontradiksi antara kecemerlangan dan kemuliaan dengan kesombongan dan kebiadaban, antara roh langit dan debu tanah.

Apa yang kemudian determinan, inilah yang membentuk supra-personal, menjadi kebudayaan dan peradaban. Karena itu, perang sesungguhnya ada di setiap diri orang per orang. Perang yang jauh lebih besar dari Badar, kata Rasulullah, Muhammad SAW.

Laku kanibal (when human become like real brute beasts) itu pun jadi tidak mutlak telah “lalu”. Mitos dunia modern tentang “kesuksesan” dan “kemajuan” yang menempatkan capaian material sebagai acuan merupakan reproduksi laku kanibal. Ia diiklankan sepanjang siklus hidup manusia, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai kebudayaan dan peradaban “kuali besar”.

Seperti lubang hitam (black hole), kebudayaan dan peradaban “kuali besar” mengisap materi ketuhanan yang ditiupkan ke dalam diri setiap manusia. Inilah destinasi, manusia sebagai Adam yang tercampak dari surga menatap pintu langit yang tertutup, kepariaan menghampiri di tengah keberlimpahan dan kekayaan bumi yang diperuntukkan baginya.

Adam yang tercampak melakukan perjalanan mencari jejak Tuhan. Ia berpuasa, meliberasi dirinya dari memanggul kutuk “kuali besar”. Puasa pun menjadi jalan rindu Adam pada materi ketuhanan di dalam dirinya. Puasa pun menjadi siasat Tuhan untuk membawa Adam kembali kepada-Nya.

Berpuasa, menolak godaan kebencian, kebiadaban, keserakahan, dan bujuk rayu fantasi libidonis yang tidak halal baginya, membawa bani Adam ke waktu pen-“suci”-an diri. Karena itu, Ramadhan dinamai bulan suci. Sifatnya universal, diperuntukkan kepada manusia bukan hanya milik orang-orang saleh atau sekelompok orang yang (merasa) sudah suci dan menuntut penghormatan berlebihan dari pihak lain yang dinilai kotor dan najis.

Siapa pun mereka, mungkin pelacur, pemadat narkoba, atau koruptor yang sedang meringkuk di buih KPK diundang ke dalam Ramadhan, ke dalam keajaiban waktu dan ampunan Tuhan. Ramadhan menjadi cara Tuhan mengampanyekan betapa tidak berbatas kasih sayang dan ampunan-Nya.

Politik makan vs puasa

Di tahun ini, kita menyaksikan karnaval politik pemilihan kepala daerah yang sambung-menyambung dan sering menjadi sangat mencemaskan. Orang-orang bergegas, berpacu, bersiasat, dan bertikam-tikam untuk memenuhi keinginan tak terhingganya, yakni berkuasa. Inilah politik makan.

Kekuasaan dibeli dengan harga mahal dan dijadikan alat untuk berlaku kanibal. Label pemimpin direngkuh lewat berbagai strategi manipulasi. Spanduk dan baliho yang memuat foto para kandidat membanjiri jalan-jalan. Tapi, citra yang muncul nyatanya seragam.

Citra dalam adegan kanibalisme, mereka yang duduk di sisi kuali besar menyantap potongan tubuh rakyat yang basah dan melepuh.

Politik puasa adalah politik untuk berkuasa, untuk jadi pemimpin bagi diri masing-masing. Kekuasaan dan kepemimpinan atas diri sendiri hanya dapat diraih melalui kesederhanaan, ketulusan, dan kejujuran berpuasa. Relasinya pun menjadi vertikal dan horizontal.

Secara vertikal, kualitas puasa akan mendongkrak elektabilitas kekhalifahan seseorang di mata Tuhan. “Aku tidak dapat membiarkan perutku kenyang,” ujar Nabi Yusuf. “Ketika perutku kenyang, aku tidak dapat mendengar suara perut rakyatku yang lapar.” Inilah politik puasa, ikhtiar meraih predikat the chosen people dan wong agung di mata Tuhan.

Capaian prestasi vertikal itu akan menemukan tempat tumbuh di dalam sejarah manusia. Secara horizontal, kesederhanaan, ketulusan, dan kejujuran berpuasa menjadi derajat kenaikan yang kembali ke kehidupan nyata melalui skenario Tuhan yang penuh ketidakterdugaan.

Sirah para nabi dan kisah para pemimpin agung di setiap lapis masa menyebutkan hal itu. Bagi kita, pemimpin yang sederhana, tulus, dan jujur adalah mereka yang dirindui di 2014 nanti.

 

Oleh: AGUS HERNAWAN, Pemerhati Kebangsaan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top