BREAKING NEWS
You are here: Home » OPINI » Tukar
Tukar

Tukar

OPINI | Uang bisa mempertemukan pelbagai hal yang jauh dan tak jauh. Saya ingat film The Cup.

Di sebuah biara pengungsian di kaki Himalaya yang sunyi, Orgyen, seorang rahib remaja, mengidap ketagihan satu hal duniawi: ia keranjingan sepak bola. Ketika di Eropa Piala Dunia diperebutkan dan kesebelasan Prancis dan Brasil berlaga di babak final, Orgyen dan temannya, Lodo, mengerahkan teman-temannya seasrama untuk iuran. Mereka ingin menyewa pesawat TV dan antena parabola dari seorang pedagang India di kampung sebelah.

Iuran terkumpul, tapi uang tak cukup. Orgyen yang keras hati itu akhirnya membujuk Nyima, bocah yang baru mengungsi dari Tibet, agar ikhlas menggadaikan arloji pemberian orang tuanya.

Target dana yang dikumpulkan pun tercapai. Bocah-bocah itu berhasil. Mereka bisa mengikuti final Piala Dunia lewat televisi.

Tapi di tengah riuh rendah penghuni biara, ketika mereka mengikuti pertandingan di layar TV, Orgyen tak tenteram. Ia merasa bersalah kepada Nyima. Ia pun kembali ke kamarnya. Anak berumur 14 tahun itu mengambil pisau kuno pemberian ibunya: ia ingin menebus arloji yang digadaikan dengan benda yang berharga bagi dirinya dengan miliknya sendiri.

Di biara di kaki Himalaya itu, arloji, pisau, antena parabola — benda-benda yang berbeda sejarah dan perannya — bertemu. Mereka saling menggantikan.

Kita bisa melihatnya sebagai isyarat tiadanya keterikatan manusia kepada miliknya – sebuah dasar ethis Buddhisme. Tapi kita juga bisa melihat bahwa yang terjadi adalah pertukaran — tak berbeda dengan yang terjadi di Mall Pondok Indah atau di sisi remang tempat pelacuran. Dalam kegiatan yang disebut “pasar”, seks, gaun, buku filsafat, kitab doa, dan potongan rambut dengan cekatan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Semua berada di satu dataran: arena jual-beli.

Pelbagai hal itu dilepaskan dari sifat unik masing-masing; mereka diterjemahkan jadi sesuatu yang ada karena bisa dipertukarkan. Mereka dipasangi pengukur yang berlaku umum di sebuah masyarakat. Semuanya dihadirkan dalam rupiah, dolar, atau dinar. Dengan itulah mereka saling ketemu. Marx benar: uang membentuk “persaudaraan” hal-hal yang pada dasarnya mustahil berkaitan — die Verbrüderung der Unmöglichkeiten.

Tapi sebenarnya ada yang lain yang terjadi di luar “persaudaraan” itu. Uang memutus pertalian. Dalam film The Cup, ia memisahkan Nyima dari arloji yang merupakan bagian hidupnya sebagai pengungsi, memisahkan Orgyen dari pisau yang diberikan ibunya ketika ia pergi memasuki kehidupan biara.

Uang membuat benda-benda tak istimewa, bisa jadi bagian hidup siapa saja sebagaimana halnya uang itu sendiri. Lembar rupiah itu benda yang banal, kertas sehari-hari yang ditemukan di mana-mana, yang sebenarnya kosong; bobotnya ditentukan dari waktu ke waktu oleh orang ramai.

Dilihat secara demikian, uang memisahkan, tapi sekaligus jadi perantara antara obyek-obyek.

Syahdan, ada seseorang bernama Li Changgeng. Ia hidup beberapa dasawarsa yang lalu di wilayah Jiangyou, Provinsi Sichuan, Tiongkok. Saya menemukannya dalam buku yang disusun sastrawan Liao Yiwu dari wawancaranya dengan orang-orang lapisan bawah yang diterjemahkan dalam The Corpse Walker.

Li Changgeng seorang juru tangis dalam upacara berkabung. Sejak berumur 12 tahun, ia bekerja dengan keahlian itu bersama grupnya. “Kebanyakan orang yang kehilangan anggota keluarganya meledak tangisnya dan mulai meraung-raung ketika melihat tubuh si mendiang,” cerita Li. “Tapi raungan mereka tak bertahan lama. Rasa sedih segera akan merasuk ke jantung, mereka terguncang atau pingsan. Tapi bagi kami, begitu kami bisa mendapat suasana hati yang pas, kami kendalikan emosi dan dengan mudah kami membuat improvisasi. Kami bisa meraung lama, selama yang dipesan.”

Lalu tambahnya: “Dalam upacara pemakaman besar, jika bayarannya bagus, kami bikin banyak improvisasi untuk menyenangkan hati tuan rumah.”

Tangis, dalam profesi Li, adalah dukacita yang dipisahkan dari orang yang menangis. Tangis itu telah jadi obyek; ia hanya sebuah komoditas, ekspresi berkabung yang dipertukarkan dengan upah. “Dukacita” itu bukan datang dari dalam, bukan kepunyaan Li. Bertahun-tahun jadi juru tangis profesional, ia mengakui: “Lama-kelamaan, kami tak punya perasaan lagi.”

Kalimat yang sama agaknya bisa diucapkan bintang jelita YY atau ZZ, di belakang punggung kliennya, setelah layanan seksual mereka diterjemahkan ke dalam angka-angka dolar.

Dengan uang, semua jasa dan benda seakan-akan berkembang mandiri, bukan bagian pribadi YY atau ZZ, Orgyen atau Li. Tapi pada saat yang sama, benda dan jasa itu juga jadi datar dan dangkal. Mereka tak punya sejarah lagi; mereka tak membutuhkannya.

Mungkin itu sebabnya masyarakat yang hidup dari uang ke uang adalah masyarakat yang tak perlu kenang-kenangan. Kalau tak salah, itulah yang dimaksudkan Georg Simmel sebagai “kini yang tak punya dimensi”, ketika ia membahas panjang-lebar hubungan uang, waktu, dan kehidupan.

“Kini yang tak punya dimensi” adalah waktu hidup yang tak punya apa pun yang dalam dan mempesona. Untunglah manusia masih punya saat dan tempat di mana ia mengalami kedalaman “kini dengan pelbagai dimensi — misalnya dalam momen religius dan estetik yang hening.

Sayangnya, momen-momen itu sering berubah jadi ekspresi — baik yang bersifat keagamaan maupun berbentuk seni yang dipamerkan untuk diperjualbelikan. Ramai, meriah, tapi sebenarnya resah.

Saya ingat The Cup. Di akhir film, Orgyen mendengarkan ceramah biarawan sepuh seraya melipat kertas ke dalam bentuk teratai. Lambang pencerahan yang tenteram. Saat yang tak ternilai.

 

Oleh: Goenawan Mohamad

Sumber: Tempo.co 18/5/15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com