OPINI

Abrakadabra, Jadilah maka Menjadilah!

OPINI | LAGALIGOPOS.COM – “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna”.

Yah! Seperti itulah Haruki Murakami menyilaukan kita dengan sebuah kalimat yang memikat dalam “Dengarlah Nyanyian Angin”. Kalimat tersebut berbicara kepada kita dengan begitu yakin, bahwa karya ini patut di baca. Kalimat-kalimat pembuka seperti itu membawa pembaca masuk kedalam dunia yang sama sekali baru. Dunia yang diciptakan oleh penulis.

Ada benarnya pepatah lama yang berkata “Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama”. Untuk menampilkan sesuatu yang baik dan mendapat perhatian yang lebih, sesuatu harus mendapatkan kesan yang baik pula diawal. Begitulah hukum yang bekerja dalam keseharian, jatuh cinta itu pada “pandangan” pertama. Perasaan seperti itu adalah sesuatu yang subtil yang sulit untuk dijelaskan. Putusan apakah sesuatu itu benar atau salah adalah putusan moral. Tetapi harus diakui cinta pada pandangan pertama adalah sesuatu yang terberi.

Karya sastra membuat pembacanya jatuh cinta ketika menyuguhkan kalimat pembuka yang penuh sihir. Kalimat yang akan menjadi penentu tertariknya seorang pembaca pada karya tersebut. Kalimat pembuka menjadi kalimat magic, seperti mantra pemanggil “Accio” dalam serial Harry Potter. Kalimat pembuka sebenarnya gambaran kecil keseluruhan cerita. Kita ambil contoh kalimat pembuka cerpen Bocah Lelaki yang Menulis Puisi karya Yukio Mishima berbunyi “Puisi demi puisi mengalir dengan lancar dari penanya”. Bahwa benar apa yang didapati dalam cerpen ini sepenuhnya cerita tentang anak yang tergila-gila menulis puisi. Membaca kalimat pembuka membuat kita sudah dapat menerka-nerka arah cerita dalam karya sastra.

Pengarang sebagai penciptaan dunia dalam karyanya menjadikan kalimat pembuka berfungsi seperti firman Tuhan Kun Fa Yakun (Jadilah maka Menjadilah). Namun¬† pengarang tidak mungkin disamakan dengan Tuhan, dengan otomatis ciptaan pengarang adalah bagian-bagian dari hidup yang dialaminya. Frye mengatakan segala sesuatu yang diciptakan oleh pengarang adalah sesuatu yang tumbuh dan ditransmisikan dari referensi bersama. Referensi yang di hidupi dalam sebuah masyarakat. Sehingga kemurniaan ciptaan pengarang bukan sesuatu yang sama sekali baru, tetapi kemurnian yang dimaksud hanyalah menunjukkan apa yang dibuat berbeda dengan karya yang lain. Tetapi segala bahannya adalah sesuatu yang terberi dalam dunia yang dirangkai ulang. Menjadi seorang pengarang berarti melibatkan daya kreatif untuk mencipta. Setiap “pencipta” membedakan dirinya dengan “pencipta” yang lain melalui karyanya.

Najib Mahfuz dengan “Lelaki dalam Pasungan” ingin melukiskan kehidupan kelas menengah di Mesir. “Pukul setengah dua sore September 1941, saat jam pulang kerja terlihat banyak pegawai keluar dari gedung-gedung pemerintahan. Sementara diawal-awal perang saudara di Amerika yang menuntut penghapusan perbudakan, Harriet Beecher Stowe berjuang dengan “Uncle Tom’s Cabin” Sang Budak Hitam. Tuan-tuan bebas memperjualbelikan seseorang dan haknya. Sehingga di kalimat pembuka Beeceher Stowe proses negosiasi budak, “Pada suatu sore yang dingin pada bulan Februari, dua pria terhormat duduk berdua sambil menikmati anggur di ruang makan yang dilengkapi perabotan berkualitas tinggi di kota P-, di Kentucky. Kedua orang ini ingin bercerita suatu peristiwa yang dalam masyarakatnya. Ini bukan berarti berlakunya nasionalisme dalam sastra seperti kata Carlos Fuentes. Hanya sumber-sumbernya saja yang bersifat nasional. Karena nilai-nilai yang terkandung didalamnya bersifat global.

Najib Mahfuz dan Harriet Beecher Stowe keduanya membuka karya mereka dengan sebuah mantra yang menarik perhatian. Bagi Sigmund Freud para pengarang pencipta dunia menggunakan kreatifitas mereka seperti anak-anak. Pengarang dan anak-anak mengandalkan imajinasi dan emosi yang meluap-luap. Sekali imajinasi itu diperkenalkan ke dunia sangat sulit untuk dikekang, hal itu harus dibiarkan berlimpah menggenangi diri. Emosi yang ada pada pengarang sepenuhnya dituangkan kedalam kalimat pembuka, dari kalimat pembuka ini pengarang menekankan arah cerita. Semua itu dilakukan dengan kesungguhan. Sehingga pembaca dituntut untuk menjadi seorang paranormal untuk sementara waktu menerka-nerka apa yang terjadi pada para tokoh di akhir cerita.

Sekali kalimat pembuka mengetuk kesadaran kita, kalimat-kalimat itu akan terus menuntut perhatian. Bukankah para pengarang mencurahkan segala perhatiannya pada kalimat pembuka ini. Sebelum menulis bukankah diotak kita dulu disusun sebuah kalimat, kemudian dituliskan terus menerus. Di film-film sering kita lihat aktor yang memerankan seorang penulis, berulang kali menarik kertas dimesin ketiknya yang tampak kusam. Hanya demi mendapatkan sebuah kalimat yang dirasa pas menggambarkan gagasan bermakna yang bertalian dengan dunia.

Oleh: Zulkifli Safri, Mantan Redaktur Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top