BREAKING NEWS
You are here: Home » BERITA PILIHAN » Anggota Dewan Bikin Buku
Anggota Dewan Bikin Buku

Anggota Dewan Bikin Buku

OPINI | Tentu siapapun bisa menulis. Tak ada salahnya apabila seorang wakil rakyat menulis buku. Itu merupakan sebuah pencapaian bagus. Disitu bisa diketahui kapasitas literal seorang wakil rakyat.

Tapi yang perlu kita tahu, pada sisi penulis tidakkah terasa konflik internal dalam kedua profesi tersebut? Seperti wejangan Ignas Kleden berikut ini, “apakah yang aneh jika seorang biolawan sekaligus jadi pemain sepak bola atau seorang pelukis jadi mahaguru antropologis? Dengan kata lain menjalankan dua profesi yang sama sekali berbeda mungkin lebih mudah dari pada menggabungkan dua keterampilan yang dipisahkan oleh nuansa” Tidakkah profesi sebagai wakil rakyat dan sekaligus sebagai penulis adalah sebuah ironi? Buku seperti apa yang ditulisnya?

Seperti yang kita ketahui, Wakil Rakyat adalah sebuah profesi yang bermukim sepenuhnya dalam pusaran kekuasaan, disana pemakaian aksara selalu teknis dan pragmatis. Sementara dalam profesi menulis, aksara disana menjadi tujuan yang berbeda.

Tentu saja banyak pendapat yang muncul agar tulisan tak dipermasalahkan dari latar belakang profesi penulisnya. “Apa perlu mengetahui bahwa filusuf besar seperti Martin Heidegger pernah menulis sajak,” kata Ignas. Namun ada alasan juga mengapa pendekatan ini harus digunakan.

Penulusuran secara geanologi disini bukan untuk mengutak-atik kehidupan penulis, tapi untuk melihat apakah budaya birokratik dan pragmatik yang menempel pada seorang wakil rayat dapat padu dengan pekerjaan yang bergelut dengan aksara. Lihatlah tulisan-tulisan itu! masih adakah didalamnya daya sentuh aksara bagi nasib manusia.

Disinilah letak letak soalnya. Bergelut dengan aksara adalah bidang yang paling dalam yang bisa disebut sebagai (the inner sanctuary) aksara adalah keindahan, yang tidak boleh dipermaikan oleh kekuasaan. Dalam kenyataannya kekuasaan bisa membentuk keindahan (power begets beauty), modal bisa membentuk keindahan (capital begets beauty). Campur tangan aparatus kekuasaan yang terlalu besar masuk kedalam dunia literal telah menjinakkan kemampuan aksara untuk memperopagandakan kemanusian. Kondisi ideal mestinya sebaliknya. Dunia literal lah yang harus berperan maksimal menjinakkan kekuasaan, dalam arti mengurangi ruang dimana kekuasaan menentukan standar keindahan, estetika, moral dan rasio publik.

Theodor Adorno seorang filusuf Jerman pernah mengatakan bahwa menulis atau berpuisi diwaktu hak-hak rakyat terancam merupakan sebuah tindakan barbar. Maksudnya adalah saat-saat seperti itu, tindakan dan keberpihakan nyata terhadap nasib rakyat lebih dibutuhkan dan mendesak untuk dilakukan dari pada menyepi dalam kesendiran untuk menulis. Pemandangan mengerikan akan terlihat apabila anggota dewan masih berdiskusi, menulis dan bedah buku sementara rakyat telah berenang sendiri sampai ditepi.

Menulis dan bermain dengan buku sejauh ini belum menjadi watak kebudayaan kita. Dosen dan guru saja malas baca buku, apalagi rakyat. Dunia perbukuan di negeri ini adalah watak segelintir kelas menegah yang pasif dan abai akan hak-hak dasar rakyat yang iheren dalam tugas yang diamanatkan kepada mereka.

Jauhnya jarak kedua profesi ini akhirnya menyingkapkan pertentangan internal yang kusut dalam buku-buku seperti itu. Kebutuhan untuk membuat sesuatu eksplisit dalam tulisan yang dibangun selalu disertai oleh kemapuannya yang luar biasa untuk menyembunyikannya dalam tulisan yang dihasilkan. Demikian pun kesanggupan untuk menyembunyikan kenyataan secara simbolis langsung berhadapan dengan kenyataan bahwa persembunyian simbolis itu justru menyingkapkan berbagai wajah kenyataan.

Oleh: Rival, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik Unhas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com