BREAKING NEWS
You are here: Home » OPINI » Don’t Be Angry
Don’t Be Angry

Don’t Be Angry

OPINI | Jangan sekali-kali kita merasa kesepian di atas jalan kebenaran, hanya karena sedikit orang yang melewatinya. Jadilah orang yang berkarakter, penuh kepastian, dan pantang mundur karena dunia ini milik para pemberani. Jangan marah! Agar awet muda, panjang umur, dan murah rezeki.

Jika kita menghendaki perubahan dalam hidup dan mendambakan hidup bahagia, yang kali pertama harus kita lakukan adalah mengubah pikiran. Pikiran melahirkan kenyataan. Kenyataan itu akan meluas dan menyebar. Apa pun yang Anda pikirkan akan menjadi kenyataan dalam diri Anda pada waktu yang sama. Maka, belajarlah hidup bahagia dengan jalan suka menolong, membantu, dan memaafkan sesama.

Allah SWT berfirman, ’’Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.’’ (QS Al-Hujurat: 12)

Dari ayat di atas, ada tiga perbuatan yang harus dihindari orang-orang yang beriman. Tiga hal tersebut adalah (a) berprasangka buruk, (b) mencari-cari kesalahan orang lain, dan (c) menggunjing orang lain. Tiga hal itu merupakan satu kesatuan yang bermula dari prasangka buruk, lalu berkembang menjadi tuduhan dusta, dilanjutkan dengan upaya mencari-cari kesalahan orang lain, kemudian diteruskan dengan tindakan seperti hujatan, cercaan, makian, dan kemarahan.

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, ’’Berilah wasiat kepadaku.’’ Nabi bersabda, ’’Jangan marah.’’ Maka beliau mengulang-ulang, ’’Jangan marah.’’ (HR Bukhari).

Setiap manusia pernah marah. Nabi Muhammad SAW dan Allah pun pernah marah. Tegasnya, sebenarnya marah bukanlah perbuatan maksiat, bukan pula dikategorikan penyakit hati. Ada marah yang batil. Inilah yang tidak dibenarkan.

Demi terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran, dibutuhkan seorang pemimpin yang punya kecerdasan emosional, tidak sekadar cerdas intelektual. Sebab, sarana kepemimpinan adalah dada yang lapang. Maka, kepemimpinan tidak dapat dipegang orang yang emosional, tetapi oleh orang yang bijaksana. 

Kemarahan yang tidak pada tempatnya tidak dapat diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu juga dalam pergaulan dan persahabatan. Sebab, satu kemarahan saja akan merenggangkan hubungan suami istri, tetangga dan tetangga, teman dan teman, begitu seterusnya.

Jika sifat marah sudah menjadi tabiat setiap individu, pasti akan lebih banyak timbul kehancuran daripada kemakmuran. Oleh karena itu, harus ada usaha yang keras untuk menghadapi sifat ini demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam tulisan ini, mari kita berguru kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah suri teladan yang baik dalam masalah marah dan pemaaf. Beliau tidak pernah marah untuk diri beliau sendiri. Walaupun ada orang yang menyakiti beliau, beliau tetap bersikap lemah lembut. Sifat seperti ini sangat jarang dimiliki manusia. Bagaimanapun juga, kesalahan harus diberi sanksi dan hukum Allah harus ditegakkan. Hanya, hukuman atau sanksi yang dijatuhkan kepada mereka tidak ditujukan untuk menyalurkan balas dendam, tetapi demi menegakkan ketentuan Allah SWT.

Mengobati Marah

Ketahuilah bahwa obat setiap penyakit harus dapat menghilangkan virus-virus dan faktor penyebab timbulnya penyakit itu. Sebab-sebab marah, antara lain, sombong, ujub, banyak melakukan senda gurau, perbuatan sia-sia, melecehkan orang lain, menghina, berdebat, bertengkar, berkhianat, serta cinta harta dan kedudukan. Semua itu merupakan perangai buruk dan tercela dalam pandangan Islam. Seseorang tidak dapat menghindar dari amarah apabila masih ada sifat-sifat itu.

Jadi, di sini diperlukan upaya untuk menghilangkan sebab-sebab tersebut dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengannya. Kesombongan harus dihilangkan dengan tawadu. Ujub dihilangkan dengan mengenal hakikat dirinya yang hina. Suka membanggakan diri hendaknya dihilangkan dengan mengingat asal pertama diciptakan (sperma), menyadari bahwa semua manusia berasal dari satu bapak, yang membuat berbeda adalah ketakwaan saja. Kebanggaan, kesombongan, dan ujub merupakan sifat yang paling tercela dan pangkal dari segala keburukan.

Sementara itu, senda gurau dihilangkan dengan menyibukkan diri dengan banyak beribadah atau melakukan perbuatan yang bermanfaat. Perbuatan sia-sia dihilangkan dengan bersungguhsungguh dalam mencari keutamaan untuk dirinya, berakhlak mulia, dan menggali ilmu agama.

Adapun suka melecehkan orang lain dihilangkan dengan tidak menyakiti orang lain dan menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang membuat dirinya dilecehkan orang lain. Suka menghina orang lain dihilangkan dengan menghindari perkataan yang buruk dan jawaban yang tidak menyenangkan. Rakus harta dihapuskan dengan kanaah atas nikmat yang mencukupi kebutuhannya. Tegasnya, dalam menghilangkan sifat-sifat tercela tersebut, diperlukan pelatihan diri dan kesabaran dalam menghadapi segala rintangan.

Oleh: Agoes Ali Masyhuri; Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo

Sumber: JAWA POS, 08 Juli 2015 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com