BREAKING NEWS
You are here: Home » BERITA PILIHAN » Ekonomi Pasca-Boom Komoditas
Ekonomi Pasca-Boom Komoditas

Ekonomi Pasca-Boom Komoditas

OPINI | Hampir semua negara berkembang dan emerging, yang proporsi ekspor komoditasnya sangat tinggi, saat ini sedang merumuskan ulang sumber pertumbuhan ekonomi mereka.

Ini seiring dengan penurunan tajam baik harga maupun permintaan komoditas dunia dalam empat tahun terakhir. Bank Dunia dalam laporan Commodity Market Outlook di Januari 2016 menurunkan proyeksi harga minyak mentah dunia 2016 menjadi USD37/barel dari prakiraan sebelumnya yang dibuat pada Oktober 2015 sebesar USD51/barel.

Proyeksi ini secara tidak langsung menggambarkan masih lesunya perekonomian dunia di 2016 setelah sepanjang tahun lalu harga minyak mentah dunia turun tajam sebesar 47%. Sementara itu, harga komoditas nonenergi seperti produkproduk mineral dan logam diproyeksikan turun 10% di 2016 setelah tercatat turun 21% tahun lalu. Penurunan terbesar diprediksi terjadi di biji besi sebesar 25% seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi China dan sejumlah negara manufaktur lain.

Proyeksi penurunan komoditas juga akan terjadi di produkproduk pertanian. Dalam laporannya, Bank Dunia memproyeksikan harga komoditas pertanian dunia akan turun 1,4% di 2016, sedikit lebih besar penurunannya dari perkiraan Oktober 2015 yang sebesar 1,3%. Sejumlah faktor diidentifikasi sebagai penyebab penurunan harga komoditas pertanian dunia seperti terjaganya produk dan hasil panen, terjaminnya stok pangan dunia, rendahnya harga minyak mentah dunia, dan stagnasi pertumbuhan permintaan biodiesel.

Penurunan harga tertajam diproyeksi akan dialami produk biji-bijian yang diperkirakan melemah 3,4%. Selanjutnya harga produk jenis minyak nabati dan produk daging dunia diproyeksikan turun 2,2% sepanjang tahun ini. Tidak hanya Bank Dunia, lembaga internasional lainnya seperti OECD, IMF, dan WTO di sejumlah publikasi juga mengindikasikan hal yang sama.

Era boom komoditas telah berakhir setelah selama kurang lebih satu dekade (2000-2010) mengalami tren kenaikan harga dan permintaan dunia yang sangat signifikan. Namun setelahnya, tren penurunan terjadi. Hal inilah yang membuat banyak negara berkembang dan emerging baik di Asia, Amerika Latin maupun Afrika sedang merumuskan strategi dan kebijakan ekonomi baru.

Strategi baru ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tren penurunan harga dan permintaan komoditas dunia. Terlebih bagi sejumlah negara yang proporsi ekspor komoditas di atas 60%. Kondisi ini tentu saja menurunkan secara drastis penerimaan pajak ekspor, penerimaan negara lainnya, dan laba korporasi. Masalah ini mengakibatkan aktivitas ekonomi di negara berkembang dan emerging menurun, belanja pemerintah dipangkas, pengangguran dan kemiskinan meningkat serta utang pemerintah membengkak.

Negara-negara di Amerika Latin seperti Brasil, Venezuela, Argentina, dan Ekuador mengalami kesulitan ekonomi setelah harga dan permintaan komoditas dunia melemah. Bahkan negara seperti Venezuela menghadapi guncangan stabilitas makroekonomi karena hampir 95% penerimaan valuta asing dari aktivitas ekspor minyak mentah.

Negara lain seperti Brasil dan Argentina juga sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat turunnya permintaan biji besi dan kedelai dari China serta menguatnya dolar AS. Tidak hanya negara-negara Amerika Latin, banyak negara di Afrika juga mengalami perlambatan ekonomi akibat jatuhnya harga komoditas dunia.

Negara seperti Nigeria, Zambia, Senegal, Mauritania, Ghana, dan Gabon berjuang untuk tetap bertahan di tengah rendahnya harga komoditas yang selama ini menjadi penopang utama ekspor dan penerimaan devisa negara. Bahkan sejumlah negara di Timur Tengah diperkirakan mengalami kesulitan fiskal apabila harga minyak mentah dunia terus berada di bawah USD50/barel.

IMF melakukan kalkulasi dan mengestimasi bahwa apabila harga minyak mentah dunia tetap berada di bawah USD50/barel, banyak negara di kawasan Timur Tengah yang akan mengalami kesulitan likuiditas dalam lima tahun ke depan atau bahkan lebih cepat, tidak terkecuali Arab Saudi, Oman, dan Bahrain. Rendahnya harga minyak mentah dunia telah menghilangkan potensi pendapatan di kawasan Timur Tengah tidak kurang dari USD360 miliar.

Negara lain seperti Rusia, Australia, dan Asia Tengah juga mengalami tekanan perlambatan ekonomi ketika pendapatan ekspor dari komoditas, baik minyak mentah, gas, mineral maupun tambang turun tajam. Merosotnya pendapatan negara dan korporasi besar telah berdampak pada menurunnya kinerja ekonomi di tiap negara, kawasan, dan dunia.

Bank Dunia baru-baru ini merevisi turunnya pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 2,9% di 2016. Sementara itu IMF juga merevisi turunnya pertumbuhan ekonomi dunia pada 2016 menjadi 3,1%. Revisi oleh dua lembaga tersebut dipicu melambatnya ekonomi negara berkembang dan emerging yang selama ini menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi dunia.

Adapun perekonomian Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan ternyata berdasar sejumlah indikator makro terbaru kondisinya tidak seoptimistis perkiraan awal. Adapun ekonomi Eropa dan Jepang juga terus mengalami deflasi. Bagi Indonesia, melemahnya harga dan permintaan komoditas dunia sangat berdampak pada kinerja ekonomi nasional.

Harga komoditas yang turun tajam, baik energi maupun nonenergi, telah membuat ekonomi nasional hanya mampu tumbuh sebesar 4,79% pada 2015. Bila kita melihat produk domestik bruto regional, terlihat dampak penurunan aktivitas daerah akibat melemahnya permintaan komoditas ekspor nasional. Misalnya saja, PDB Sumatera tumbuh di 2015 sebesar 3,5% lebih rendah bila dibandingkan dengan 2014 yang mampu tumbuh 4,6%.

Kalimantan juga menunjukkan tren yang sama, yaitu sepanjang 2015 tumbuh 1,3% lebih rendah dari 2014 yang tumbuh 3,3%. Tren rendahnya harga dan permintaan komoditas dunia perlu kita antisipasi bersama agar ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh dan resilient terhadap perlambatan ekonomi dunia. Di tengah ekonomi dunia yang melambat, ekonomi domestik menjadi tumpuan utama.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi domestik berkontribusi paling besar terhadap pembentukan PDB nasional. Secara ratarata sektor ini berkontribusi 54- 56% terhadap perekonomian. Menjaga daya beli masyarakat serta konsumsi domestik secara baik otomatis akan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan saat ini menjadi salah satu faktor penting untuk menarik sekaligus mendorong bergeraknya sektor swasta.

Mendorong investasi terus mengalir ke Indonesia dan diarahkan untuk sektor-sektor produktif dan bernilai tambah tinggi sangat kita butuhkan agar ekspansi dunia usaha terus tumbuh dan berkembang. Meningkatkan aksesibilitas keuangan, teknologi produksi, dan pemasaran sektor UMKM juga tidak kalah penting untuk membuat ekonomi domestik terus bergeliat.

Sektor lain seperti farmasi, pariwisata, jasa dan perdagangan, keuangan, properti, industri pengolahan dan konstruksi perlu terus didorong sebagai sumber alternatif di tengah lesunya permintaan ekspor. Kebijakan moneter dan fiskal yang lebih proekspansi dunia usaha menjadi sangat penting sebagai kebijakan countercyclical. Penurunan BI Rate secara berturut-turut di kuartal I- 2016 perlu kita apresiasi bersama.

Penurunan GWM juga dilakukan agar likuiditas semakin besar di pasar domestik. Hal ini menunjukkan otoritas moneter sejalan dengan otoritas fiskal dalam mendorong berkembangnya sektor riil di Tanah Air. Tidak kalah penting juga koordinasi pemerintah pusatdaerah dan dunia usaha perlu terus diintensifkan.

Hanya melalui langkah-langkah ini kebijakan nasional untuk mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru selepas era boom komoditas dapat kita rumuskan bersama sehingga ekonomi Indonesia akan tetap dapat tumbuh positif dan relatif terjaga di tengah penurunan harga komoditas dunia.

Oleh: Firmanzah ; Rektor Universitas Paramadina; Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI
Sumber: Koran Sindo, 21 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com