Hyper-Realitas Spiritual; Sebuah Narasi Lubang Hitam Keberagamaan Masyarakat Moderen

Lagaligopos.com – Pesatnya laju budaya populer saat ini secara cepat menggiring masyarakat kita masuk kedalam pusaran hasrat yang sangat mencengangkan. Fenomena ini terlihat secara mencolok justru pada bulan ramadhan, dimana pusat-pusat perbelanjaan jauh lebih ramai dari pada mesjid, jalan raya semakin macet justru pada saat waktu Sholat Taraweh berlangsung, dan Sosial media semakin riuh justru saat azan di kumandangkan.

Perenungan dan upaya-upaya yang bersifat kontemplatif untuk menemukan makna sejati dari ibadah mulai hilang secara perlahan. Pelan tapi pasti, masyarakat kita tergiring kearah perayaan kedangkalan makna ibadah itu sendiri. Bagaimana tidak, acara buka puasa kini dikemas dalam format budaya populer; buka puasa bersama digelar di hotel berbintang, dimeriahkan oleh selebritis dan dipandu oleh uztad pop. Saat Sholat di Mesjid, tak lupa kita membawa Smartphone, mengambil gambar kemudian mengunggahnya ke sosial media, saat kita buka bersama anak yatim di panti asuhan, kita mengambil gambar dan memamerkannya melalui pesan singkat, saat kita menonton televisi, kita melihat seorang uztad ceramah selucu-lucunya, berdoa sesendu-sendunya, mengikuti format acara yang disiapkan, tidak lagi dengan kesadaran dan iman yang polos.

Dunia moderen ibarat sebuah hutan rimba yang binatang-binatangnya hidup dalam diri kita. Lihatlah disekitar kita, bagaimana ibadah menjelma menjadi pasar, sebuah perang komoditi untuk memproduksi hasrat kebinatangan kita. Hasrat konsuntif di produksi untuk mengalihkan kebersahajaan, hasrat pencitraan digunakan politisi mencemari rumah ibadah (mesjid), dan hasrat menampakkan diri (narsistik) menjauhkan kita dari perenungan hakikat nilai-nilai luhur sebuah ibadah. Artefak Budaya Populer merusak kesejatian ibadah, menimbulkan polusi spiritual yang membekaskan “lubang hitam” keberagamaan.

Padahal, dunia spiritualitas menekankan kita untuk menahan, mengontrol dan meminimalisir hasrat-hasrat kebinatangan dalam diri kita. Bukti bahwa keimanan seseorang itu kuat ketika ia tidak terpengaruh oleh gegap gempita godaan dunia, spiritualitas dalam dirinya tidak dimangsa oleh buasnya gaya hidup. Sholat, zikir, puasa, zakat dan doanya tidak dipertontonkan di time line media sosial.

Akhirnya kita sekarang sudah berada pada sebuah dataran, dataran dimana masyarakat kita menerima semua hal di atas secara tidak kritis, memperaktekkan semua hal di atas dengan sukarela, dan menerima semua kontradiksi ini menjadi sebuah perayaan, yang menurut Martin Heidegger, kita sudah terjajah oleh oleh hasrat kita sendiri.

Mestinya kita meresapi dalah-dalam sebuah Doa dari Jalaluddin Rumi, seorang sufi Persia, “Ya Tuhan, bantu aku melawan diriku sendiri”. Dan memang benar bahwa, benteng pertahanan terakhir dari gempuran budaya populer adalah diri kita sendiri.

Memang benar bahwa kita tidak bisa melepaskan diri dari dunia materi sama sekali. Materi tidak bisa di hilangkan, hasrat dan nafsu tidak bisa dimusnahkan seratus persen, namun jalan spiritualias memberikan kita petunjuk untuk mengontrol dorongan-dorongan negatif hal tersebut. Yasraf Amir Piliang, seorang pemikir Kebudayan memberikan kita nasehat dengan puitis apa yang mesti dilakukan melihat fenomena Hyper-Spiritulitas dan masa depan agama ini. Ia mengatakan bahwa, tantangan terbesar wacana spiritualitas masyarakat kontemporer ialah bagaimana memalingkan masyarakat dari penjara materi di tengah dunia yang merayakan materi, mengajak orang bertamasya spiritual di tengah masyarakat yang hanyut dalam tamasya hasrat, mengajarkan jalan spiritual ditengah derasnya arus jalan konsumerisme, dan membawa orang kejalan kesucian di tengah  masyarakat yang memuja kedangkalan.

 

Oleh: Muhammad Azwan, Dosen Universitas Islam Negri (UIN) Alauddin Makassar

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top