BREAKING NEWS
You are here: Home » METRO » Konflik Lutra Menggila, Luthfi: “Pemerintah Sudah Tak Punya Rasa Malu”
Konflik Lutra Menggila, Luthfi: “Pemerintah Sudah Tak Punya Rasa Malu”

Konflik Lutra Menggila, Luthfi: “Pemerintah Sudah Tak Punya Rasa Malu”

MASAMBA, LAGALIGOPOS.COM – Kabupaten Luwu Utara layak menyandang gelar sebagai kabupaten penuh konflik di Luwu Raya, bahkan Sulawesi-selatan. Sabtu (11/10/14), konflik antara warga Kopi-kopi versus warga Karangan di Kecamatan Bone bone kembali meletus. Bahkan, beberapa rumah warga terbakar akibat konflik tersebut.

Anggota DPR RI, Luthfi Andi Mutty melihat itu sebagai kesalahan pemerintah setempat. Menurutnya, masalah mendasar yang terjadi ialah pemerintah Luwu Utara tidak peduli dengan persoalan rakyat.

“Rasa peduli hanya lahir dari rasa tanggung jawab, dan jangan harap ada rasa tanggung jawab jika tak ada rasa malu. Pemerintah malu jika tidak memakai barang mewah, tapi tidak malu ketika mobil pemadam tidak bisa digunakan karena berbagai kendala,” ucap Luthfi kepada Lagaligopos.

Mantan Bupati Luwu Utara dua priode ini juga merasa malu sebagai putera daerah yang kampung halamannya dirundung konflik berkempanjangan. Ia pun mengisahkan kondisi Luwu Utara pada saat awal terbentuknya. “Ketika Lutra terbentuk, konflik terjadi di mana-mana. Saya malu dengan keadaan ini, maka saya berusaha untuk menyelesaikannya. Setiap ada konflik, saya berusaha menjadi pejabat pertama yang ada di lokasi kejadian. Jika sy berada di luar kota, maka sy sgr kembali pada kesempatan pertama. Krn itu tdk ada konflik yang terjadi yang sy lewatkan utk datang,” kenangnya.

Saat ditanya mengenai cara penanganan konflik yang dilakukan oleh dan Aparat Kepolisian setempat saat ini, politisi partai Nasden ini menilai bahwa penempatan markas Brimob yang tujuan kehadirannya di Luwu Utara untuk meredam konflik telah bergeser dari komitmen awal.

“Dulu rencana penempatan asrama brimob itu di Karetan. Tapi saya minta kepada Kapolda Sulsel saat itu (irjen Pol.Sofyan Yacob) agar ditempatkan di Baebunta dengan pertimbangan bahwa Lutra masuk kategori daerah konflik. Hal itu disetujui Kapolda dengan syarat Pemda menyediakan lahan, dan masyarakat menghibahkan tanahnya untuk jadi asrama brimob dengan harapan jika terjadi konflik, pasukan brimob dapat digerakkan dengan cepat. Jika sekarang konflik terjadi di mana-mana dan brimob tidak mengambil peran berati, maka komitmen awal penempatan brimob di Baebunta sudah tidak sesuai dengan komitmen awal,” terang Luthfi.

Reporter: Fz
Editor: AS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com