BREAKING NEWS
You are here: Home » OPINI » Pesan ”Cheryl”
Pesan ”Cheryl”

Pesan ”Cheryl”

OPINI | Peran matematika dalam kehidupan manusia berubah. Keterampilan bermatematika yang dibutuhkan dalam kehidupan hari ini berbeda dengan abad-abad sebelumnya.

Misalnya, dengan tersedianya komputer yang akurat dan cepat dalam menghitung rangkaian penjumlahan atau berbagai operasi bilangan yang rumit, keterampilan bermatematika di era sekarang diharapkan lebih mengedepankan keterampilan menyelesaikan masalah dan bernalar, ketimbang berhitung dan menghafal rumus.

Pesan di atas digambarkan dengan baik melalui masalah ”Cheryl” yang mewabah di dunia maya beberapa pekan lalu. Inilah terjemahan bebasnya.

Albert dan Bernard baru saja berteman dengan Cheryl dan mereka ingin mengetahui hari ulang tahunnya. Cheryl lalu memberikan 10 pilihan, yaitu 15 Mei, 16 Mei, 19 Mei, 17 Juni, 18 Juni, 14 Juli, 16 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, 17 Agustus.

Cheryl kemudian memberi tahu secara terpisah kepada Albert bulannya saja dan kepada Bernard angka-harinya saja. Albert dan Bernard lalu mengobrol.

Albert: Saya tidak tahu kapan ulang tahun Cheryl, tetapi saya yakin Bernard tidak tahu juga.

Bernard: Awalnya saya tidak tahu ulang tahun Cheryl, tetapi sekarang saya tahu.

Albert: Berarti saya juga tahu ulang tahun Cheryl.

Jadi, kapan ulang tahun Cheryl?

Ini mungkin kali pertama masalah matematika digunjingkan dan dicoba dijawab banyak masyarakat awam. Bahkan, berbagai raksasa media dunia mengulasnya, diikuti dengan media sosial.

Matematikawan dunia seperti Alex Bellos juga tak mampu menahan diri untuk mencoba menjawab masalah ”remeh” ini. Di Tanah Air, Prof Hendra Gunawan dari Matematika ITB berujar, ”Ini masalah matematika yang bagus.”

Kecakapan analisis

Untuk menyelesaikannya dibutuhkan kecakapan menganalisis dan membangun inferensi atau menarik kesimpulan sahih. Seorang pemrogram komputer turut serta merancang algoritma guna menjelaskan bagaimana menemukan jawabnya.

Namun, berbeda dengan masalah matematika sekolah konvensional yang sarat penghitungan menakutkan, masalah ini justru tidak menuntut keterampilan berhitung. Pun tak ada rumus cepat yang sering dibanggakan bimbingan tes matematika.

Dalam kebiasaan buruk matematika sekolah, murid kerap sekadar memasukkan angka ke dalam rumus, walau tak paham maknanya.

Pengetahuan teknis matematika tingkat SD seperti operasi tambah-kurang pun tak dibutuhkan. Sampai-sampai ada yang bertanya, ”Apakah ini masalah matematika?” Ini pertanyaan sahih orang awam karena toh tidak melibatkan bilangan.

Menurut KBBI, matematika didefinisikan sebagai ”ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.” Artinya, matematika harus melibatkan bilangan dan keterampilan mengoperasikan bilangan.

Melalui masalah ”Cheryl” terlihat bahwa definisi itu tidak tepat lagi. Mungkin lebih tepat jika diartikan sebagai kata kerja, yakni ”kegiatan berkesenian bernalar guna menurunkan necessary inferences atau simpulan perlu berdasar bernalar deduktif”. Dalam matematika, simpulan atau pernyataan sahih hanya jika hasil bernalar deduktif.

Lalu, walau jawabnya memang tunggal, cara menjawab dan menyajikan rumusan masalah serta jawabnya tidak tunggal. Artinya, walau jawabnya sudah ada, tetapi cara menjawabnya masih perlu cara lain. Cara menjawab terbaik baru ada di hari esok, ini keyakinan pematematika. Dengan keyakinan ini, sampai sekarang orang masih mengajukan berbagai bukti Dalil Pitagoras.

Ini menunjukkan bahwa walau semua inferensi di matematika harus taat didasarkan melalui proses bernalar deduktif, bermatematika sendiri membutuhkan kecakapan bernalar induktif dan imagery intelligence atau kecerdasan membayangkan. Bagaimana masalah dan informasi yang diketahui dapat dirumuskan secara sistematis butuh kreativitas.

Lebih penting lagi, masalah ini mengirimkan pesan bahwa kecakapan berbahasa canggih seperti memahami teks mutlak dituntut dalam bermatematika. Mungkin kita kesulitan dalam matematika justru karena kemampuan memahami teks yang kurang. Padahal, kecakapan berbahasa dan bernalar sejatinya terkait erat.

Kesan saat dibaca pertama, ini soal tebak-tebakan atau tatarucingan (dalam Bahasa Sunda). Nuansanya bermain, tetapi memang sikap bermain ini yang seharusnya bertumbuh pada anak saat bermatematika.

Alam imajinasi

Matematika berada di alam pengembaraan imajinasi manusia yang radikal liar. Artinya, matematika tak perlu realistis, tetapi perlu relevan dengan imajinasi manusia (baca: anak). Rasanya belum pernah ada dalam kehidupan nyata, seseorang begitu menganggurnya sampai harus menggunakan logika guna mengetahui tanggal lahir orang lain. Masalah ”Cheryl” itu memang tak realistis. Sampai-sampai ada yang berkomentar, ”Mengapa tak tanya KTP-nya saja?”

Namun, masalah ini relevan dengan hakikat imajinasi manusia yang tetap mengandung unsur kekanak-kanakan, seperti sikap ingin tahu dan berlogika. Bukankah bagi kebanyakan manusia yang tak begitu berhasil berperan sebagai orang dewasa, menjadi guru matematika merupakan berkat?

Ke depan, sangat baik jika pendidik matematika di sekolah Indonesia melibatkan dan membiarkan anak menikmati masalah matematika sejenis ini serta mencoba menjawab dengan caranya sendiri.

Dahulu anak diharapkan mengetahui jawab yang benar, tepat, dan cepat, sekarang kita diharapkan tahu bagaimana bersikap menghadapi masalah yang belum pernah dialami dan cara menjawab yang belum kita ketahui.

Oleh: Iwan Pranoto;  Guru Besar Matematika ITB

Sumber: KompasCetak, 07/5/15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com