BREAKING NEWS
You are here: Home » OPINI » Sadisme Politik Indah Matikan Denyut Politik Arsyad
Sadisme Politik Indah Matikan Denyut Politik Arsyad

Sadisme Politik Indah Matikan Denyut Politik Arsyad

OPINI | Awan hitam menyelimuti perjalanan politik Arsyad Kasmar, kerja keras, loyalitas, dan dedikasi tinggi membesut partai berlambang Kepala Garuda selama ini sama sekali tak ternilai, setelah Indah Putri Indriani menyerobot kendaraan yang harusnya menjadi miliknya untuk maju bertarung sebagai calon Bupati pada hajatan pesta demokrasi 9 Desember mendatang.

Pupus sudah harapan sosok yang dirindukan rakyat membawa angin perubahan di Luwu Utara, untuk maju sebagai nahkoda Luwu Utara lima tahun kedepan sekaligus pukulan mematikan yang teramat jahat bagi tokoh sekaliber Arsyad.

Kudeta politik yang dilakukan indah melahirkan persepsi publik bahwa kejadian ini merupakan akhir perjalanan politik sosok Arsyad Kasmar yang anti klimaks, sebab di akhiri dengan pola yang begitu Indah menendang Arsyad dari rumah yang di bangunnya lalu di kuasai orang lain.

Kejadian ini tentu menyayat hati keluarga, loyalis, simpatisan, relawan, dan para pendukung  Arsyad yang kembali harus gigit jari menyaksikan penzaliman Indah yang teramat sadis merebut Gerindra dari genggaman Arsyad Kasmar.

Manuver politik yang di lakukan Indah dalam merebut Gerindra adalah sadisme politik yang sungguh dinikmatinya. Istilah “Sadisme” diturunkan dari nama seorang bangsawan prancis, penulis filsafat dan sering pornografi dengan kekerasan Marquis de Sade (1740-1814). Sadisme dalam pengertiannya yang paling sederhana adalah perolehan kenikmatan karena menyaksikan atau menonton penderitaan,  rasa sakit, atau kepedihan orang lain.

Jerih payah  Bapak sawit Luwu Utara dalam membesarkan partai Gerindra dari nol   menjadi  enam kursi di lingkaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Luwu Utara tak dianggap sama sekali setelah rumah yang di bangunnya dengan modal ketulusan, gaya politik santun, merangkul lawan dan kawan, membangun kepercayaan ke pada sesama kader, menyelamatkan saudara dari jurang keterpurukan, dibalas dengan Sadisme Politik oleh perempuan cantik rupa Indah Putri Indriani dan gerbongnya.

Indah bersama gerbongnya begitu jumawa dan tanpa ampun merebut Gerindra, memutus harapan perubahan rumpun loyalis, pendukung, simpatisan, relawan, militan, keluarga, petani, pedagang, dan gerakan akar rumput menjadi barisan huruf-huruf dingin tak bermakna, serta melakukan kejahatan sempurna dengan membunuh perjalanan politik Arsyad Kasmar dari percaturan politik Luwu Utara yang mengusung platfon perubahan. Tapi begitulah politik.

Skenario Penggulingan Arsyad

Skenario mengkudeta Arsyad dari panggung politik Luwu Utara dan partai Gerindra mulai berhembus di internal Gerindra pada akhir tahun 2013 setelah Indah masuk sebagai Pengurus DPD Gerindra Sulawesi Selatan paska partai berlambang Kepala garuda itu di bawah besutan La Tinro La tundrung yang kebetulan keluarga besar Kultur Indah. Indah pun mulai memainkan lakonnya dengan “jurus politik Taichi” yang tidak hanya menghipnotis internal gerindra tapi juga masyarakat Luwu utara.

Taichi merupakan satu jenis seni bela diri yang berasal dari negri China. Berbeda dengan jenis bela diri lainnya, taichi justru menonjolkan unsur kelembutan, gerakannya mengalir seperti air, luwes, dan lunak seperti kapas. Awam melihatnya seperti tarian yang indah yang gerakannya lambat, santun namun di balik itu semua taichi ternyata mengandung tenaga tersembunyi yang sangat mematikan bahkan mampu meningkatkan ketahanan terhadap serangan lawan.

Jurus politik Indah ini sukses mendulang penerimaan publik (Publik Consent), Skenariopun di mulai. jurus itu mulai menampakkan tajinya dengan keputusan indah mendorong sang suami untuk maju sebagai Calon Anggota DPRI di bawah naungan Gerindra setelah tak tertampung oleh PDIP.

Keputusan Indah mendorong sang suami dinilai banyak kalangan sebagai langkah awal memuluskan jalan Indah menguasai Luwu Utara dan Gerindra. Langkah ini adalah media mengukur populasi kekuatan Indah di tengah-tengah masyarakat dan pertarungan personal Indah Vs Arsyad (Head to head) untuk menarik perhatian Gerindra.

Untuk meladeni penetrasi Indah, Arsyad pun kemudian mendorong anaknya maju sebagai Calon Anggota DPRI. Sontak saja hasil Pileg mempertontonkan Indah mempermalukan Arsyad setelah hasil perolehan suara yang di raih Suami Indah mengungguli anak sang nahkoda Partai, dari hasil pleno KPU mempertontonkan suami Indah meraih suara 20.088 sedang  anak Arsyad mengantongi suara 15.941, partai berlambang kepala Garuda pun mulai goyang.

Akhir Perjalanan Arsyad di Panggung Politik Lutra

Ruang Arsyad untuk maju sebagai calon Bupati di tutup rapat setelah Ketua Umum DPD Gerindra Sulawesi Selatan La Tinro La Tundrung melakukan manufer politk agar bisa memenangkan Pilkada Luwu Utara, ia memberi tekanan kepada Ketua Umum Gerindra Luwu Utara, Arsyad Kasmar agar bersedia menjadi Calon Wakil Bupati saja, mendapingi Indah Putri Indriani yang akan maju sebagai Calon Bupati dengan alasan hasil survei menunjukkan Indah lebih unggul dari arsyad.

Sikap La Tinro La Tundrung sontak membuat Arsyad dalam tekanan.  Ditengah jalan buntu politik tersebut  Arsyad menegaskan, DPD Gerindra Sulsel harus menghargai kerja keras kader, Arsyad bahkan menyebut kerja kerasnya selama ini membesarkan Gerindra diserobot oleh Indah.

Mengutip pernyataan Arsyad  di salah satu media, “Indah sama sekali tidak paham bagaimana Gerindra Lutra di besarkan, masa saya yang menanam, Indah yang mau panen. Inikan tidak adil, Partai harus bijaksana menentukan siapa kader yang akan diusung, jangan langsung sebut Indah saja, sedikit-sedikit indah disebut, padahal dia orang baru di gerindra”.

Kecenderungan Gerindra sul-sel yang sudah terlalu Indah, langsung di jemput oleh Indah dengan menggencarkan serangan politinya untuk meyakinkan DPP Gerindra, keinginan politik  micro direduksi, diabaikan, dan dipola sedemikian rupa, sehingga ia hanya dapat mendarat pada satu gerbong yakni gerbong Indah.

Melalui tangan dingin opu LAM, Insrumen mematikan Arsyad dan skenario head to head Pilkada Lutra yang konon merupakan hitungan konsultan memuluskan jalan Indah meraih kursi kekuasaan di Lutra segera di mainkan. Indah langsung di kawinkan dengan kader Gerindra lainnya M. Tahar Rum yang ketokohannya sepadan dengan Arsyad. Insrumen ini sangat efektif menarik simpati La tinro La tundrung dan sang Jendral prabowo subianto untuk segera mengeluarkan rekomendasi usungan di Pilkada Lutra kepada pasangan Indah- Tahar.

Oleh : Rival Pasau, Sekretaris Pemuda Pancasila Luwu Utara

One comment

  1. Murni Sarroppo M.SE

    Seharusnya untuk mengusung pimpinan Daerah itu kita harus mempersiapkan generasi Anak atau Putra/Putri Daerah. Sudah Waktunya kita mempercayakan atau mempersiapkan mereka untuk memimpin Daerah mereka masing2. Sudah tidak jaman lagi memberikan mandat ke orang lain sedangkan Anak daerah itu tidak di berikan Prioritas tersendiri. Ini adalah pelajaran bagi kita Semuanya, terutama para Pemimpin Partai untuk mengkaji ulang kebijakan yang ada di Seluruh Partai agar di kemudian hari tidak terjadi lagi penggusuran atau Diskriminasi dalam mengambil keputusan untuk menentukan Kader2nya yang bisa mewakili mereka untuk memperebutkan posisi No1 di Daerah itu. Saatnya untuk berani menentukan dan memberikan Prioritas kepada masing2 Putra/Putri Daerah untuk memimpin Wilayah mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com