BREAKING NEWS
You are here: Home » OPINI » Full Day School, Foucault dan Praktik Pendisiplinan Tubuh
Full Day School, Foucault dan Praktik Pendisiplinan Tubuh

Full Day School, Foucault dan Praktik Pendisiplinan Tubuh

OPINI | Ada satu hal yang menarik dari sistem pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Ia senantiasa berubah sejalan dengan pergantian pucuk pimpinan kementerian terkait. Baru-baru ini, publik diramaikan dengan wacana sistem pendidikan “full day school” yang dilontarkan oleh Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI hasil resshufle yang menggantikan Anies Baswedan.

Menurutnya, sistem full day school diharapkan memberi keleluasaan kepada guru untuk memenuhi ketentuan mengajar 24 jam dalam sepekan (Jawa Pos, 9/8), dan sistem belajar ini diharapkan akan membentuk karakter siswa, karena menurutnya anak-anak muda zaman sekarang masih banyak yang bermental lembek dan tidak tahan banting (Republika, 8/8).

Jika kebijakan ini jadi diterapkan, maka jam belajar siswa akan berubah. Jika biasanya jam belajar siswa secara normal dimulai pukul 07.00 hingga 13.00, dengan penerapan ini, maka jam belajar akan berakhir sekitar pukul 16.00. Orantua/wali murid yang bekerja hingga pukul 16.00 diharapkan bisa segera menjemput putra-putrinya di sekolah selepas kerja. Artinya, kemungkinan anak melakukan tindakan negatif dapat diminimalisir. Logika yang dipakai kira-kira demikian.

Pendisiplinan Tubuh Gaya Baru

Sistem pendidikan full day school dengan jam belajar mulai pukul 07.00 hinga 16.00 mengharuskan siswa larut dalam kegiatan belajar di sekolah. Sedangkan sekolah merupakan institusi legal-formal dengan seperangkat aturan yang wajib untuk menjadi perhatian. Mulai dari cara berpakaian, belajar di kelas, hingga waktu untuk makan siang pun diatur. Pokoknya, semua hal yang berkaitan praktik kedisiplinan diterapkan!

Melalui karyanya, Discipline and Punish (1975) Foucault melihat bahwa pendidikan adalah penindasan. Dalam sistem pendidikan, ia melihat berjalannya mekanisme pendisiplinan tubuh. Menurutnya, kuasa displin (disciplinary power) adalah teknologi yang dijalankan guna menjaga seseorang dalam pengawasan, bagaimana mengontrol tingkah laku, tindak-tanduk, bakat, ketangkasan, kecerdasan, bagaimana untuk meningkatkan performa, menggandakan kapasitasnya (O’Farrel, 102: 2005). Hal ini bertolak belakang dengan Paulo Freire yang menganggap bahwa pendidikan adalah pembebasan. Disini akan saya tampilkan mengapa Foucault bisa beranggapan demikian.

Pertama, sekolah sebagai entitas ke-ruang-an yang diorganisasikan. Hal ini mengandaikan bahwa sekolah sebagai ruang dimana subjek melakukan ritinitas (routine). Terdapat suatu pembabakan yang jelas; dimana siswa akan belajar, makan siang, membaca buku, membayar SPP bulanan, berkonsultasi jika ada gangguan belajar, semuanya ditentukan. Sekolah sebagai entitas ruang mengharuskan subjek menempati ruang sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, terdapat juga pembabakan ruang berdasarkan usia.

Kedua, sekolah sebagai pengorganisasian aktivitas. Foucault melihat bahwa dalam institusi yang demikian sekelompok orang dibangun lewat mekanisme pengerjaan tugas dalam waktu yang bersamaan.

Ketiga,”forms of group activity were organized: people were trained to perform the same set of movements at the same time, for instance armydrills or marching or reciting lesson together” (O’Farrel, 103:2005). Bentuk-bentuk dari aktivitas kelompok diorganisasikan. Mereka diharuskan untuk melakukan aktivitas dalam waktu yang sama.

Keempat, mereka menggunakan metode pelatihan demi menciptakan suatu kondisi yang sempurna; sebagaimana para siswa diajarkan memegang pensil secara benar, para militer dilatih untuk memegang senapan dengan baik.

Satu hal lagi yakni pelaksanaan ujian (examination). Pelaksanaan ujian secara berkala juga merupakan bagian dari proses penguasaan itu. Ia dianggap sebagai mekanisme yang efektif. Mekanisme ujian menggabungkan antara konsep kekuasaan dan pengetahuan. Melalui ujian subjek dikuasai hingga kemudian diukur berdasarkan penilaian obyektif dan di-perbandingkan dengan subjek yang lain. Subjek kemudian menjadi sangat individual.

“Through the examination, individuals are required to reproduce certain types and behaviour. Their performance can then be measured, and entered data bank which compares them with the other. The examination allows people to be individualised, to become cased which are measured against other case and are then filed and use by the social sciences (pshychology, sociology, pshychiatry) to generate the knowledge” (Farrel, 105:2005).

Keberhasilan kuasa disiplin menurut Foucault ditunjukkan dengan penambahan teknologi pengawasan secara general. Hadirnya CCTV (Close Circuit Television) yang mengontrol rutinitas subjek dalam beberapa instusi publik membenarkan hal itu. Mekanisme pengawasan pun menjadi lebih sederhana; pengawas tak perlu lagi berpindah tempat demi penciptaan keteraturan.

Mekanisme pendisiplinan tubuh yang berlaku dalam -meminjam istilah Erving Goffman- institusi total (total instituion) dimaksudkan agar subjek berada dalam kondisi yang teratur. Saya percaya bahwa dalam menjalankan rutinitas; dimanapun dan kapanpun, mekanisme pendisiplinan tubuh akan tetap terus berjalan. Aktivitas tubuh menyesuaikan dengan kuasa ruang. Hanya pada ruang-ruang privat-lah kebebasan tubuh dari kuasa disiplin itu ditemukan.

Kesan yang muncul dari wacana full day school adalah pemberian waktu lebih kepada sekolah -sebagai sebuah institusi- dalam usahanya untuk menguasai tubuh subjek melalu mekanisme teknis yang dijalankan. Singkat kata, mekanisme pendisiplinan tubuh akan diperpanjang. Dengan demikian usaha subjek untuk berada dalam kondisi ke-tidakteraturan bisa diminimalisir.

Jika pada kondisi ‘normal’ saja mekanisme pendisiplinan tubuh masih membalut, bagaimana jika praktek full day school ini diterapkan? Akankah full day school yang diwacanakan oleh Muhadjir Effendy akan menciptakan keteraturan?

Oleh: Agus Hendro Setiawan
Sumber: Qureta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com