BREAKING NEWS
You are here: Home » OPINI » Pemimpin
Pemimpin

Pemimpin

OPINI | Kekuasaan mengurung orang dalam kesendirian, terkadang mengutuknya dalam kesepian. Sebuah novel yang bagus pernah melukiskannya: Cien años de soledad (Seratus Tahun Kesendirian) Gabriel Garcia Marquez, di beberapa paragraf ketika kita menemui Kolonel Auerilano Buenda. Saat itu adalah saat sang Kolonel sejak kekuasaannya semakin besar.

“Di malam itu juga, ketika wewenangnya diakui semua komandan pemberontakan, ia terbangun dengan ketakutan, dan berseru meminta selimut. Dingin yang meretakkan tulang-tulangnya, yang menyiksanya bahkan di bawah terik matahari, telah membuatnya tak bisa tidur selama berbulan-bulan, … Mabuk kekuasaan yang semula dirasakannya pun mulai terburai ditempa rasa tak nyaman yang datang bergelombang….Perintahnya dilaksanakan bahkan sebelum ia ucapkan, bahkan sebelum ia pikirkan….Tersesat dalam kesendirian kekuasaannya yang amat besar, ia mulai kehilangan arah”.

Dalam “kesendirian kekuasannya” itu sang Kolonel tetap menemui dunia dan manusia, tapi itu membuatnya risau. Di dusun sebelah penduduk ramai mengelu-elukannya, tapi ia bayangkan sambutan itu juga diberikan orang-orang itu kepada musuh politiknya. Ia merasa di mana-mana orang menggunakan matanya — mata sang pemimpin– ketika menatap, menggunakan suaranya — suara sang pemimpin — ketika berbicara. 

Mungkin ketika mereka menyalaminya, mereka melakukannya dengan rasa curiga sebagaimana ketika ia menyalami mereka.

Ia, dirinya, merasa tercerai berai. Ia merasa lebih sendirian ketimbang sebelumnya. Di awal novel ini digambarkan sang tokoh akan mati di depan regu tembak, tapi akhirnya Aureliano Buenida meninggal tanpa heroisme: mati tersandar di batang pohon castaño tempat ayahnya yang sakit jiwa bertahun-tahun yang lalu diikat.

Dan jalan raya yang dulu memakai namanya pun kemudian lenyap…

Tentu tak semua orang yang berkuasa akan berakhir demikian. Tapi satu hal pasti: kesendirian itu. Di puncak piramida kekuasaan, orang tak akan bisa naik banding. The buck stops here: sebuah kalimat yang tertulis di atas meja kerja Presiden Harry S. 

Truman di Gedung Putih.

Kesendirian mengandung keberanian, tapi kadang-kadang dengan mata yang rabun dan keangkuhan. Truman hanya mau melihat dunia dengan sepasang mata sendiri.

The buck stops here: akulah yang memutuskan, akulah yang bertanggungjawab. Itulah sikapnya ketika Agustus 1945 ia perintahkan bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Membunuh hampir 270 ribu orang Jepang, termasuk para ibu dan anak-anak, Truman tak pernah menyesal. Ketika Oppenheimer, salah seorang perancang bom atom, mengatakan, “Pak Presiden, tangan saya berlumur darah”, Truman menjawab ketus: “Yang berlumur darah adalah tanganku, dan biarlah ini jadi urusanku”.

Truman tak pernah ragu. Ia tahu senjata itu begitu mengerikan, juga bagi masa depan manusia. Ia ibaratkan sendiri daya destruktif itu dengan mengacu ke Alkitab: “pembinasaan dunia yang dinubuatkan di zaman Lembah Eufrat di masa Nabi Nuh”.

Ia juga tahu sejumlah jenderalnya, termasuk Eisenhower, menganggap Amerika tak perlu menjatuhkan bom atom untuk menaklukkan Jepang; toh Jepang sudah nyaris menyerah. Tapi Truman terus. Ia hanya mendengar penasihat yang disukainya: mereka yang menyetujui pandangannya.

Maka bom itupun menghancur-leburkan seantero kota, membunuh ribuan orang dan menebarkan debu beracun radio-aktif. Sejak itu selama berpuluh tahun dunia ketakutan. Merasa terancam, negara-negara mempersenjatai diri, dan perlombaan senjata yang paling dahsyat dalam riwayat umat manusia pun berlangsung. Di ujungnya: sebuah kiamat tanpa Tuhan.

Apa kiranya yang dapat mencegah seorang pemimpin tertinggi, dalam kesendiriannya, membuat keputusan yang destruktif?

Jawaban yang sederhana dan sering diberikan hingga tak lagi mengejutkan: percakapan. Tapi saya kira bukan cuma itu. Justru di pucuk kekuasaan seseorang perlu diingatkan bahwa kekuasaan itu tak hanya membantunya naik, tapi juga memerosotkannya pelan-pelan.

2003: Presiden Vaclav Havel mengundurkan diri dari kehidupan politik Czech. Sastrawan ini dulu dipilih jadi kepala negara setelah “Revolusi Beludru” menang, tanpa percikan darah. Di kursinya ia duduk, dan dunia bertepuk tangan, tapi kian lama ia kian jadi seorang yang rentan oleh rasa gentar yang harus ditanggungnya sendiri.

Pidato perpisahannya diucapkan dengan nada murung dan dengan kearifan yang dalam. Posisinya selama jadi kepala negara, katanya, bukan membuatnya yakin kepada diri sendiri. Justru sebaliknya: “Tiap hari saya kian menderita demam-panggung, tiap hari saya kian takut kalau-kalau saya tak pantas untuk pekerjaan ini.” Ia sadar, orang sekitarnya, juga hati nuraninya sendiri, makin lama makin tak lagi bertanya apa yang ideal bagi bangsanya dan bagaimana mengubah dunia jadi lebih baik. Lama kelamaan yang ditanyakan hanya: apa yang sudah dicapainya dan apa yang akan jadi peninggalannya setelah ia tak berkuasa lagi.

Dan ia makin merasa sendirian jauh di atas.

Dalam satu hal kesendirian-dalam-kekuasaan mirip kesendirian seorang penyair dalam puisi: masing-masing berada dalam situasi yang tak bisa diwakilkan. Kesunyian itu bisa produktif. Tapi kesunyian, ya, kesendirian itu, bisa membuat seseorang lebih mudah melihat riwayatnya sendiri yang akan pendek dalam perjalanan sejarah yang berliku-liku. Pendek dan terbatas. Kalaupun sejarah menjadikan sang penyair seorang pemimpin, kata Havel, manusia “tak dapat mengharapkan dunia… akan tiba-tiba jadi sebuah sajak.”

Dunia adalah liku-liku yang tak terjamah oleh kesendirian.

Oleh: Goenawan Mohamad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com