BREAKING NEWS
You are here: Home » OPINI » Sarung
Sarung

Sarung

OPINI | Seorang jenius tak dikenal telah menemukan sebuah benda yang sangat berharga: sarung. Anda pasti tahu itu. Dua ratus senti meter persegi kain, dengan corak bermacam-macam, yang kedua tepinya dipertautkan memanjang. Orang Inggris menyebutnya sarong dan tentu itu meniru kata Melayu. Meskipun mereka sendiri tak pernah mengenakannya.

Mungkin orang Inggris menganggapnya busana tak praktis. Tak mengapa: ukuran “praktis” Inggris memang lain dari kita. Bagi kita, sarung justru sebuah teknologi tepat buat segala manfaat. Kita mengenakannya buat perhelatan, kita memakainya juga buat ke kakus. Kita mempergunakannya buat selimut penahan dingin, kita juga mengerudungkannya untuk berlindung dari terik. Kita bisa (bila kita kepingin lari cepat) meringkasnya jadi semacam serual pendek, dengan memilin ujungnya serta meliukkannya ke pinggang belakang. Kita juga bisa mempergunakannya jadi topeng. Dan dalam keadaan tak jadi busana, sarung bisa jadi pembungkus (dan sekaligus penenteng) buku, misalnya, bila kita pindah rumah.

Memang seorang jenius agaknya yang menemukan benda semacam itu. Atau mungkin, lebih tepat, suatu proses pengalaman yang panjang. Tapi sesuatu telah terjadi pada sarung. Barangkali karena juga pengalaman suatu kebudayaan selalu punya kaitan sosial yang berubah.

Sarung, yang sebenarnya bisa elegan dan sekaligus casual seperti desain Calvin Klein, kini surut jadi benda yang sangat privat: hanya untuk di kamar tidur, di kamar mandi, atau buat sembahyang pagi. Satu-satunya kesempatan ketika sarung go public ialah bila orang pergi ke masjid, di hari Jumat atau hari raya Selebihnya: ia hanya ornamen pesta perkawman yang agak merepotkan.

Maka, tak heran bila sarung pun bisa jadi lambang sesuatu yang pribumi tapi menyusut, sesuatu yang “rakyat” tapi terdesak, sesuatu yang cocok dengan lingkungan tapi terancam oleh modernisasi yang menabrak-nabrak. Perlahan-lahan akhirnya sarung juga jadi lambang suatu kebersahajaan yang mandiri – dalam menghadapi kementerengan kaki plastik. Agaknya, itulah inti seruan Sastrawan Umar Kayam ketika dua pekan lalu ia menulis di majalah remaja Hai dengan berseru, “Kaum sarungan se-Indonesia, Bersatulah”.

Agak aneh juga memang riwayat sarung. Ada masanya ketika ia jadi tanda identitas sebuah lapisan yang dicemooh. Pada tahun 1970, misalnya, tokoh Partai Nasional Indonesia Hadisubeno mcmperingatkan agar klta waspada terhadap “kaum sarungan”. Ia tak menyebut spesifik apa, tapi dengan segera ungkapan ltu Jadi ungkapan yang jelas.

Sebab, kata-kata Hadisubeno adalah percikan baru dari ketegangan yang lama di masyarakat Jawa, ketegangan yang terasa tapi jarang diucapkan: antara kaum ningrat dan priayi yang abangan, dan kaum pinggiran yang santri di lain pihak. Dan sebagai orang pinggiran, kaum santri yang berpakaian sarung itu untuk waktu yang lama bukanlah orang-orang yang didengar dalam percaturan kebudayaan. Mereka adalah “udik”.

Waktu tentu saja bisa mengubah sengketa seperti itu. Mungkin saja hal-hal yang udik” kini ditimbang kembali dan – oleh perubahan sosial, ekonomi ataupun politik bahkan lebih dihargai. Namun, kita tak pernah bakal lupa kisah Si Dul di hari lebaran dalam buku Aman Dt. Modjoindo: anak Betawi ini, dengan segala impian anak kampung, mencoba memakai topi dan dasi. Tapi engkongnya, guru ngaji yang galak, menyemburnya. Si Dul pun kembali memakai sarung, tapi hatinya remuk. Kita tahu di mana Aman, pengarang Balai Pustaka yang dikuasai Departemen O.K. & W itu, berpihak.

Di Dunia Ketiga, sejarah pakaian memang sejarah perbenturan kebudayaan dan politik, yang terkadang meletus keras terkadang hanya seperti lahar di perut gunung. Di Turki, untuk membebaskan bangsanya, Mustafa Kemal membabat turbus dari kepala orang banyak. Di India, juga untuk membebaskan bangsanya, Gandhi mempertahankan hasil industri khadi. Di Indonesia sarung juga telah jadi barang sosial budaya di sebuah zaman peralihan: ia pun suatu titik konflik.

Kita bisa melihatnya – justru karena sifatnya yang serba guna – sebagai tanda keterbatasan kita. Tapi kita juga bisa, dari sisi lain, dan dari masa lain, melihatnya dengan rasa kangen. Kita bisa jadi snob yang mencemoohnya sebagai gombal engkong Si Dul yang disakralkan. Tapi kita juga bisa mengibarkannya tinggi-tinggi – sekadar agar tak disamakan dengan kaum OKB, para nouveaux riches yang kurang lebih adalah Si Dul baru, dengan glamour.

Oleh: Goenawan Mohamad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com