BREAKING NEWS
You are here: Home » BERITA PILIHAN » PLTA Atau PLTMH Seko?
PLTA Atau PLTMH Seko?

PLTA Atau PLTMH Seko?

OPINI | Ironi betul negeri ini, ketika para pendamping masyarakat tak mampu lagi membedahkan antara “Rambutan Lengkeng dan Rambutan Lebak Bulus” yang pada hakikatnya adalah jenis tanaman yang sama akan tetapi bedah varietas saja, mungkin begitulah ibarat pendamping masyarakat Seko hari ini yang tak mampu membedahkan antara PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga MikroHidro) yang hanya bedah kapasitias listrik yang dihasilkan, mungkin Kapsitas itu juga mereka tak mampu untuk menyebutkannnya berapa daya yang dihasilkan dari keduanya, berapa jumlah masyarakat yang akan dilayani oleh listrik yang dihasilkan, berapa jumlah rumah yang akan terang karena ada pembangkit listrik tersebut dan mungkin juga mereka tak mangatahui apa yang disebut dengan energi baru terbarukan yang kemudian diterjemahkan dalam pembangunan PLTA (PembangKit Listrik Tenaga Air) di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara.

Sudah hampir berbulan-bulan lamanya masalah ketenagalistrikan tak kunjung usai permasalahanya di Kabupaten Luwu Utara, berbagai macam upaya dilakukan Pemda setempat seperti bertemu dengan General Manager Unit Induk Pembangunan XIII (Sulselrabar) beberapa waktu lalu yang memintah untuk dilakukan penambahan daya sebagai solusi jangka pendek dan pembangunan gardu induk (GI) sebagai solusi jangka panjang penanggulangan sering terjadinya pemadam listrik di Kabupaten Luwu Utara, sebenarnya pembangunan gardu induk yang diberitakan diberbagai media, minimbulkan ambivalen informasi terkait rencana gardu induk listrik yang akan dibangun, jika gardu induk yang dimaksud untuk mengakomodir pembangunan PLTA seko yang sebesar 480 MW, mungkin ini menjadi solusi tepat akan tetapi jika yang dimaksud adalah Gardu Induk Distribusi energi listrik maka sudah dapat dipastikan bukanlah solusi tepat dari sering terjadinya pemadam listrik di Kabupaten Luwu Utara, pembangunan gardu induk distribusi hanyalah bertujuan untuk mengurangi daya listrik yang hilang akibat panjangnya jalur transmisi listrik dari pembangkit ke gardu induk distribusi yang kemudian dikenal dengan istilah  bagi kalangan akademisi, dengan istilah Entropi

Dalam proses transfer energi akan menimbulkan panas dalam prosesnya. Kemudian dalam hukum kedua termodinamika membatasi jumlah kerja yang didapat melalui proses pemanasan, yang menyebutkan bahwa Pada proses reversibel, total entropi semesta tidak berubah dan akan bertambah ketika terjadi proses irreversibel (Clausius). jika diterjemahkan dalam bahasa sederhana transfer energi listrik yang dibangkitkan tak seutuhnya 100% yang terdistribusi dan berakibat berkurangnya energi listrik yang disalurkan, dari 100 % energi listrik yang disalurkan sekitar 40 % energi listrik menjadi energi yang terbuang dan akan hilang sebagai panas terbuang. karena Kerja dan panas adalah dua contoh proses atau mekanisme yang dapat memindahkan sejumlah energi. jika pembangunan gardu induk distribusi yang dimaksudkan yang akan dibangun maka sudah dapat dipastikan bukanlah solusi tepat jangka panjang terkait krisis energi listrik yang terjadi di Kabupaten Luwu Utara

Kenapa PLTA Bukan PLMTH..?

Sebuah pertanyaan yang menggelitik orang banyak, ketika persoalan fundamental seperti pemilihan jenis pembangkit listrik yang digunakan masih menjadi sebuah pertanyaan bagi mereka yang telah mendampingi masyarakat Seko bertahun-tahun lamanya, sebenarnya pertanyaan tersebut menjadi semua “image” pagi para pendamping masyarakat Seko bahwa betapa tidak tahunnya meraka dengan proses pendampingan terhadap apa yang mereka dampingi selama ini.

Sebenarnya pemilihan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) merupakan solusi yang tepat dengan sumbangsi daya yang dihasilkan sebersar 480 MW atau sebesar 480.000.000 watt yang mampu memenuhi kebutuhan energi listrik penduduk sebanyak 1.333.333 Jiwa atau sebanyak 266.667 Rumah jika dibandingkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang total kapasitas maksimal hanya 100 kW atau sebesar 100.000 Watt hanya mampu memenuhi kebutuhan energi listrik sebesar 278 jiwa atau sekitar 55 rumah saja, dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kecamatan Seko maka persoalan ketanagalistrikan di Kabupaten Luwu Utara dapat terselesaikan dan tiga kecamatan yang berada di pengunungan dapat terpenuhi kebutuhan energi listriknya.

Dengan kondisi eksisting jumah penduduk Kabupaten Luwu Utara yang  sebanyak 302.492 jiwa ditahun 2015 dan diproyeksikan dengan mengunakan formula Linear Deret Aritmetik  jumlah penduduk di tahun 2025 sebesar 327.526 jiwa,  masih dapat dipenuhi oleh pebangkit listrik tenaga air (PLTA) yang akan dibangun di Kecamatan Seko. Terlebih lagi tiga kecamatan yang selama ini akses terhadap energi listrik sangat sulit, dengan pembangunan PLTA kebutuhan energi listrik tiga kecamatan tersebut dapat terpenuhi yakni di kecamatan Seko, kecamatan Limbong dan Kecamatan Rampi.

Jika dibandingkan dengan kapasitas daya yang dihasilkan dari PLTMH yang total daya maksimal hanya sebesar 100 kW dengan total  jumlah penduduk masyarakat Seko sebesar 13.012 jiwa maka dibutuhkan sebanyak 47 PLTMH untuk mengakomodir kebutuhan listrik masyarakat seko, dengan biaya yang dibutuhkan untuk membangun PLTMH dengan kapasitas 100 Kw sebanyak Rp.500.000.000/PLTMH maka total jumlah dana yang harus disediakan untuk membangunan 47 PLTMH di Kecamatan seko sebasar Rp.23.500.000.000  Maka sudah semestinya pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kecamatan Seko mestillah dilihat dalam bingkai kemaslahatan bersama bukan karena bagian dari komoditi politik Pilkada kemarin, bukan juga karena takut disebut penjilat air liur sendiri akan tetapi lebih dari itu, untuk menuju kebaikan bersama, menuju ketahanan energi Listrik di Kabupaten Luwu Utara .

Oleh: Radinal Jayadi, Penggiat Sosial,Ekonomi dan Politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com