BREAKING NEWS
You are here: Home » BERITA PILIHAN » Teman Yang Bukan Teman
Teman Yang Bukan Teman

Teman Yang Bukan Teman

OPINI | Pertemanan dalam pengertian kontemporer, tentu tidak sama dengan pertemanan dalam pengertian konvensional, di mana kita dapat mengatakan “teman abadi” atau “kawan erat”. Sebaliknya, pertemanan, dalam konteks masyarakat informasi dan abad virtual, adalah penghimpunan “teman yang bukan teman”, sebuah penghimpunan yang bersifat kontradiksi diri atau bahkan contradictio in terminis.

Saya memiliki teman, yang bukan teman—inilah kontradiksi abad informasi-digital dan dunia jejaring virtual masa kini. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada teman di dalam pertemanan, melainkan teman itu tidak lagi teman sebagaimana kita pahami selama ini.

Konsep teman (friend) dan pertemanan (friendship) kini mengalami transformasi filosofis, akibat perkembangan abad informasi-digital, di mana relasi sosial kini dibangun berdasarkan model jejaring virtual, yang di dalamnya pertemanan merupakan efek dari jejaring tersebut.

Di dalam dunia jejaring virtual, konsep teman dan pertemanan kini tercabut dari konteks relasi sosial face-to-face—yang di dalamnya kedekatan (proximity), keakraban (intimacy) dan komunitas dibangun oleh relasi nyata di dalam ruang-waktu yang konkrit. Sebaliknya, kini relasi-relasi tersebut dibangun di dalam ruang-ruang virtual di mana konsep tentang kedekatan, keakraban dan komunitas dibangun oleh relasi-relasi virtual di ruang-ruang artifisial.

Meskipun demikian, perbincangan filosofis tentang teman dan pertemanan sesungguhnya sudah menjadi perbincangan klasik, meskipun kini ia mendapatkan tantangan baru akibat perkembangan masyarakat jejaring dan dunia virtual. Untuk itu, sebelum kita membicarakan konsep teman dan pertemanan dalam konteks masyarakat virtual masa kini, ada baiknya kita menelusuri genealogi konsep tersebut di dalam era klasik, untuk melihat kemungkinan relevansinya dengan perkembangan masa kini. Aristoteles, misalnya, secara skematis membedakan tiga macam pertemanan (philia) berdasarkan latar belakang yang membangunnya: kegunaan (utility), kesenangan (plesarure) dan kebaikan (goodness).

Cuplikan dari “EPILOG: Wahai Teman Tak ada Teman” dalam buku terbaru Yasraf Amir Piliang yang berjudul “Setelah Dunia Yang Dilipat”

One comment

  1. Lagaligopos memang mencerahkan banget. Artikel yg bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
shared on wplocker.com