Seko adalah salah satu wilayan dataran tinggi di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Seko terletak ±1200m–1800m di atas permukaan laut. Seko berada di perbatasan provinsi Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Seko terbagi tiga bagian, yaitu Seko Padang di bagian paling timur, Seko Tengah, dan Seko Lemo.
Seko berada di dataran tinggi pegunungan “Tokalekaju” yang diapit oleh pegunungan Quarles dan Verbeek. Ia berada tepat di bagian tengah ”huruf K” di Pulau Sulawesi sehingga dalam sangat tepat kalau Seko di sebut sebagai Jantung Sulawesi.
Di Seko, terdapat 9 wilayah adat, yaitu (1), Hono’ (2) Lodang, (3) Turong, (4) Singkalong, (5) Ambalong, (6) Hoyane, (7) Pohoneang, (8) Kariango, dan (9) Beroppa’. Wilayah-wilayah adat di Seko ini dikenal sebagai wilayah yang kaya raya akan sumber daya alam baik hasil hutan, mineral, pertanian, perkebunan dan peternakan.
Dalam berkomunikasi sehari-hari, masyarakat seko menggunakan tiga bahasa, yaitu, bahasa Luwu, bahasa Rampi, dan bahasa Seko sendiri.
Untuk mencapai wilayah ini, kita menempuh perjalanan darat sejauh 120 km dari Masamba, Ibu Kota Kabupaten Luwu Utara. Jenis transportasi untuk mengakses wilayah itu menggunakan ojek. Biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp. 750.000 untuk sekali perjalanan.
Jenis transportasi lain menggunakan jalur udara, melalui bandara Andi Djemma Masamba. Biaya tranportasi mengunakan pesawat berkisar Rp. 350.000. Sarana transportasi udara memang lebih murah dari jalur darat. Tapi jadwal penerbangan hanya tiga kali seminggu.
Lama perjalanan menggunakan ojek berbeda-beda tergantung cuaca. Jika musim hujan, lama perjalanan ditempuh hingga dua hari, dan harus menginap di perjalanan. Ini karena kondisi jalan yang berlumpur. Jika musim kemarau, perjalanan ditempuh hanya enam sampai delapan jam.
Saat ini, Seko adalah kecamatan terluas di Luwu Utara, dengan luas wilayah 2.109,19 Km2. Kecamatan ini berpenduduk sekitar 14.000 jiwa yang terdiri dari 12 desa.
Seko adalah kecamatan yang mandiri. Sumber daya alam yang melimpah membuat wilayah ini tidak bergantung pasokan logistik dari luar. Seko tidak kekurangan pangan, karena selalu surplus dengan berasnya. Beras Tarone yang sangat terkenal merupakan produk asli Seko. Beras yang konon ditanam secara alami dan tidak menggunakan pestisida.
Seko juga adalah wilayah yang eksotik. Di Seko padang misalnya, mata kita dimanjakan hamparan padang rumput, mungkin itu padang ramput terluas di Sulawesi Selatan. Ratusan kerbau terlihat seperti onggokan batu yang bergerak menghias bukit dan padang luas itu.
