MAKASSAR, LAGALIGOPOS.COM – Rekomendasi ganda Partai Amanat Nasional (PAN) di Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan, terus menuai respon dari internal pengurus dan kader partai berlambang matahari terbit itu.
Pasalnya, di saat DPW dan DPD PAN se-Sulsel lagi solidnya berada di barisan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka), DPP justru menerbitkan satu lagi rekomendasi, yakni ke pasangan Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman (NA-SS).
Tak pelak, kebijakan DPP yang diduga mengeluarkan rekomendasi lain akibat tekanan dari penguasa, memantik reaksi dari DPW dan DPD yang tetap konsisten di rekomendasi awal, yakni IYL-Cakka.
Soliditas DPW dan DPD yang tak ingin meninggalkan IYL-Cakka bukan tanpa alasan. Sebab, selain komitmen keduanya bisa dipegang, hubungan emosional yang terbangun selama ini memang sulit untuk dipisahkan.
Baik IYL maupun keluarga Yasin Limpo, perhatiannya ke PAN tak perlu diragukan. Terbukti, selama kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo di Sulsel, PAN konsisten masuk empat besar. Begitu pun di Gowa saat IYL menjadi Bupati, perolehan kursi juga tergolong signifikan.
Bandingkan dengan Nurdin Abdullah di kepemimpinannya di Bantaeng, suara PAN justru terus merosot. Jika sebelum NA terpilih, PAN masuk di dua besar perolehan suara, maka sekarang PAN justru terseok.
Wakil Ketua DPW PAN Sulsel, Irfan AB dalam rilisnya mengungkapkan bahwa partainya tak memiliki hubungan dengan Bakal Calon Gubernur Sulsel Nurdin Abdulla (NA).
“Minta maaf saya sampaikan di tempat ini, kami dengan Pak Nurdin (NA), tidak punya hubungan baik secara emosional dan kultural. Pak Nurdin juga tidak ada hubungan seperti itu,” kata Irfan AB saat tampil sebagai narasumber di dialog bertemakan Pilgub yang diprakarsai salah satu stasiun televisi lokal di Makassar, Rabu (4/10/2017).
Irfan khawatir jika NA diusung partainya dan terpilih nanti mala akan mengabaikan PAN kembali. “Takutnya nanti saat terpilih sebagai gubernur Sulsel, beliau juga mengatakan, buat apa membesarkan PAN Sulsel. Kita tidak punya hubungan selama ini,” ucapnya.
Secara terang-terangan, Irfan membeberkan faktanya. PAN di Bantaeng yang sebelum mengusung NA sebagai bupati, menjadi partai terbesar kedua. Namun setelah mendukung NA kenyataan berbalik.
“Saat PAN tidak mengusung Pak Nurdin, kita berada dua besar di Bantaeng. Lima kursi. Setelah mengusung Pak Nurdin, justru turun menjadi dua kursi. Ini juga pertanyaan kita kepada DPP. Mengapa hal-hal seperti itu tidak diperhatikan. Kalau misalnya terjadi yah,” ungkap pria yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Sulsel.
Dia menegaskan, PAN Sulsel masih berpedoman pada rekomendasi awal yang memberikan dukungan kepada IYL-Cakka. Apalagi, hasil pertemuan dengan DPD, menyatakan sikap berada di barisan Punggawa.
